Muatan Truk Pasir Rata-Rata Kelebihan 10 Ton

Operasional truk pasir yang membawa material pasir hasil tambang dari Lumajang menuju luar daerah, kebanyakan tidak mematuhi batas tonase yang ditetapkan. Rata-rata setiap truk pasir membawa muatan bahan galian golongan C tersebut lebih 10 ton dari batas sesuai aturan.

Hal ini disampaikan Rochani, Ssos Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Lumajang kepada Sentral FM, Sabtu (13/6/2015). Fakta itu terbukti dari hasil operasi gabungan yang digelar Dishub bersama Satlantas Polres Lumajang, Kejaksaan dan Pengadilan di Jalan Raya Kedungjajang beberapa hari sebelumnya.

Dimana, saat itu terjaring 28 truk bermuatan pasir yang tonase muatannya berlebihan. “Dari truk yang terjaring operasi saat itu, setelah dilakukan penimbangan muatan menggnakan jembatan timbang portable yang dipasang Dishub Provinsi Jatim, muatannya terbukti berlebihan. Kalau seharusnya batas muatan 25 ton, bisa sampai 34 ton. Rata-rata kelebihan 10 ton,” katanya.

Dengan pelanggaran tersebut, akhirnya awak dari armada truk pasirnya langsung ditilang dan disidangkan di tempat. “Hasil dari sidang ditempat, awak truk pasirnya langsung ditetapkan denda sampai Rp. 150 ribu. Padahal dalam sidang biasanya di Pengadilan Negeri (PN) Lumajang, dendanya hanya Rp. 100 ribu saja,” jelasnya.

Tingginya operasional angkutan berat di jalan yang melintas di jalur Kabupaten Lumajang, masih menurut Rochani, mengakibatkan usia jalan jadi lebih singkat. Jika usia jalan setelah dilakukan perbaikan ditargetkan bertahan selama 5 tahun, namun tingginya aktivitas angkutan berat mengakibatkan usianya hanya bertahan 2 tahun saja.

“Buktinya, jalan nasional mulai dari Lumajang hingga Kecamatan Pasirian yang banyak dilalui angkutan pasir cepat rusak. Usia jalan di jalur ini paling lama hanya 2 tahun saja. Setelah itu rusak lagi, karena memang aktivitas angkutan berat sangat tinggi di jalur ini, terutama yang mengangkut pasir. Apalagi, tonase muatannya melebihi batas,” pungkas Rochani.

Kondisi ini juga diakui Asisten Ekonomi dan Pembangunan Drs Slamet Supriyono, Msi bahwa kualitas jalan nasional atau jalur arteri dari jalur Lumajang menuju Pasirian yang sangat buruk. Sedangkan sisi jalan sebaliknya di bagian timur kondisinya lebih baik.

“Kalau dilihat, badan jalan sisi barat kondisinya pasti lebih rusak dibandingkan sisi timur. Ini disebabkan, aktivitas angkutan yang membawa muatan pasir dari Lumajang menuju ke luar daerah sangat tinggi. Setelah mengirimkan pasir, truk itu kembali dalam keadaan kosong ke Lumajang. Sehingga sisi barat rusak karena tertekan muatan berat terus-menerus, dan sisi timur lebih baik karena truknya kosong tanpa muatan,” katanya.

Masalah angkutan berat bermuatan pasir yang beraktivitas di jalur Lumajang, masih menurut Slamet Supriyono, memang menjadi masalah yang tidak pernah selesai. “Yang terjadi dari dulu, rusak diperbaiki, terus rusak lalu diperbaiki kembali. Beruntung tahun 2015 ada anggaran perbaikan dari Kementerian PU (Pekerjaan Umum) melalui Balai Besar Pengelolaan Jalan wilayah V Jawa Timur sepanjang 8 kilometer. termasuk perbaikan jembatan Kalimujur. Namun itu belum semuanya”,paparnya.

Untuk itu, Pemkab Lumajang berkeinginan untuk mencari solusi agar angkutan berat bisa dikurangi dengan memaksimalkan moda angkutan lainnya. Diantaranya, moda angkutan railway dengan menghidupkan kembali jalur Kereta Api yang ada untuk angkutan pasir. Selain itu, moda angkutan laut dengan membangun dermaga di Dusun Dampar, Kecamatan Pasirian melalui investor untuk pengiriman hasil tambang berupa pasir ke luar daerah juga tengah diupayakan. “Solusi inilah yang akan kita pecahkan sesegera mungkin,” bebernya.

Tujuannya, agar kenyamanan dan keselamatan dari para pengguna jalan bisa lebih terjamin. Sebab, kerusakan jalan yang terjadi secara terus-menerus sesuai data statistik juga memicu banyak terjadinya angka kecelakaan di Kabupaten Lumajang.

Dimana sesuai data tahun 2014, terjadi 351 kasus kecelakaan dengan korban meninggal sebanyak 168 orang, 8 luka berat dan 178 luka ringan. “Dari sekian banyak korban yang jatuh, kebanyakan usia produktif. Salah-satu penyebabnya adalah kelaikan infrastruktur jalan disamping faktor manusia dan lainnya,” papar Slamet Supriyono. (her/ipg)

Sumber  

Yang pernah melakukan perjalanan dengan bus ke lintas timur pasti jengkel banget deh kalau ketemu truk macam ini, dijamin perjalanan jadi merayap seperti keong

Memang solusi paling jitu adalah menggunakan kapal dan reaktivasi jalur KA disana

Kata kunci terkait:

wanita panggilan, senok lumajang, bispak, dolok lumajang, enjoy cafe lumajang

Start a Conversation

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*Komentar anda akan di moderasi.