Mantan NAPI Bandar Narkoba, Pembunuh, Pemerkosa, Koruptor, Bebas Nyalon PILKADA

Putusan MK: Mantan Napi Boleh Nyalon di Pilkada
10 Juli 2015 7:53 AM

Mantan NAPI Bandar Narkoba, Pembunuh, Pemerkosa, Koruptor, Bebas Nyalon PILKADA

Jakarta, Aktual.com – Kabar gembira berhembus bagi para mantan narapidana yang ingin bertarung di Pilkada. Menyusul anulir yang diputuskan Mahkamah Konstitusi terhadap larangan mantan napi untuk mencalonkan diri sebagai peserta Pilkada.

MK memutuskan Pasal 7 huruf g UU Nomor 8 Tahun 2015 tentang Perubahan atas UU Nomor 1 Tahun 2015 tentang Penetapan Perppu Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, Walikota (UU Pilkada) dinyatakan inkonstitusional bersyarat sepanjang narapidana yang bersangkutan jujur di depan publik.

“Pasal 7 huruf g UU Pilkada bertentangan dengan UUD 1945 secara bersyarat sepanjang tidak dimaknai dikecualikan bagi mantan terpidana yang secara terbuka dan jujur mengemukakan kepada publik bahwa yang bersangkutan mantan terpidana,” kata Ketua Majelis Anwar Usman saat membacakan amar putusan, di Jakarta, Kamis (9/7).

MK juga menghapus Penjelasan Pasal 7 huruf g yang memuat empat syarat bagi mantan narapidana agar bisa mencalonkan diri sebagai kepala daerah.

Penjelasan Pasal 7 huruf g UU Pilkada berbunyi: “Persyaratan ini tidak berlaku bagi seseorang yang telah selesai menjalankan pidananya, terhitung lima tahun sebelum yang bersangkutan ditetapkan sebagai bakal calon dalam pemilihan jabatan publik yang dipilih (elected official) dan yang bersangkutan mengemukakan secara jujur dan terbuka kepada publik bahwa yang bersangkutan pernah dipidana serta bukan sebagai pelaku kejahatan berulang-ulang. Orang yang dipidana penjara karena alasan politik dikecualikan dari ketentuan ini.” Dalam pertimbangannya, MK menyatakan ketentuan tersebut bentuk pengurangan hak yang dapat dipersamakan dengan pidana pencabutan hak-hak tertentu dan tidak sesuai dengan Pasal 35 ayat (1) angka 3 KUHP hak memilih dan dipilih dapat dicabut dengan putusan pengadilan.

“Pencabutan hak pilih seseorang hanya dapat dilakukan dengan putusan hakim sebagai hukuman tambahan,” kata Anggota Majelis Hakim Patrialis Akbar saat membacakan pertimbangannya.

Patrialis mengatakan, UU tidak dapat mencabut hak pilih seseorang, melainkan hanya memberi pembatasan sesuai Pasal 28J UUD 1945.

“Apabila UU membatasi hak mantan narapidana tidak dapat mencalonkan dirinya menjadi kepala daerah sama saja UU telah memberikan hukuman tambahan. Sedangkan UUD 1945 telah melarang memberlakukan diskriminasi kepada seluruh warganya,” katanya.

MK menyatakan pernyataan terbuka dan jujur dari mantan narapidana kepada masyarakat umum (notoir feiten) pada akhirnya masyarakatlah yang menentukan pilihannya mau memillih mantan narapidana atau tidak.

“Apabila mantan narapidana tersebut tidak mengemukakan kepada publik, maka berlaku syarat kedua putusan MK No. 4/PUU-VII/2009 yaitu lima tahun sejak terpidana selesai menjalani hukumannya,” kata Patrialis.

Permohonan ini diajukan oleh dua mantan terpidana, Jumanto dan Fathor Rasyid.

Mereka menilai Pasal 7 huruf g dan Pasal 45 ayat (2) huruf k UU Pilkada sewenang-wenang dan seolah pembentuk UU menghukum seseorang tanpa batas waktu.

Namun putusan MK tersebut tidak bulat karena dua anggota majelis menyatakan pendapat berbeda (dissenting opinion), yakni Maria Farida Indrati dan I Dewa Gede Palguna.

Maria mengatakan putusan Mahkamah (Putusan MK No. 4/PUU-VII/2009) telah memberi jalan keluar, yaitu memberi kesempatan bagi mantan narapidana untuk menduduki jabatan publik yang dipilih (elected officials).

Maria mengatakan penafsiran terhadap ketentuan syarat tidak pernah dipidana telah selesai, sehingga syarat tidak pernah dipidana tetap dimaknai sesuai dengan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 4/PUU-VII/2009, bertanggal 24 Maret 2009.

Namun, lanjutnya, pembentuk UU seharusnya meletakkan empat syarat yang terdapat dalam penjelasan Pasal 7 huruf g UU Pilkada ke dalam norma Pasal 7 huruf g tersebut.
http://www.aktual.com/putusan-mk-man…on-di-pilkada/

Mantan NAPI Bandar Narkoba, Pembunuh, Pemerkosa, Koruptor, Bebas Nyalon PILKADA
Mantan NAPI Bandar Narkoba, Pembunuh, Pemerkosa, Koruptor, Bebas Nyalon PILKADA
Mantan NAPI Bandar Narkoba, Pembunuh, Pemerkosa, Koruptor, Bebas Nyalon PILKADA
Calon-calon Gubernur, Bupati dan Walikota masa depan … .

Duh, Mantan Narapidana Ramai-ramai Mau Nyalon Wali Kota
MINGGU, 12 JULI 2015 | 10:33 WIB

Mantan NAPI Bandar Narkoba, Pembunuh, Pemerkosa, Koruptor, Bebas Nyalon PILKADA
Mantan Walikota Semarang, Soemarmo Hadi Saputro memasuki mobil tahanan KPK usai menjalani sidang pembacaan putusan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, (13/08). Majelis hakim menjatuhi hukuman penjara selama 1 tahun 6 bulan dengan denda 50 juta subsider 2 bulan penjara. TEMPO/Seto Wardhana.
TEMPO.CO, Semarang – Putusan Mahkamah Konstitusi yang menganulir larangan mantan narapidana untuk mencalonkan diri dalam pemilihan kepala daerah semakin melapangkan Partai Golkar Jawa Tengah untuk mengusung kandidat yang pernah berstatus sebagai narapidana.

Bendahara Partai Golkar Jawa Tengah Sasmito menyatakan partainya akan mengusung bekas narapidana dalam kasus korupsi yang ditangani Komisi Pemberantasan Korupsi, Soemarmo Hadi Saputro, dalam pemilihan Wali Kota Semarang 2015. “Dengan mempertimbangkan banyak hal, akhirnya kami usung Pak Marmo (Soemarmo),” kata Sasmito kepada Tempo di Semarang, Ahad, 12 Juli 2015.

Soemarmo adalah Wali Kota Semarang periode 2010-2015. Belum rampung menjabat, bekas Sekretaris Daerah Kota Semarang tersebut terjerat kasus korupsi pada 2011. Soemarmo pernah mendekam di penjara Cipinang karena divonis bersalah oleh pengadilan. Kasusnya adalah memerintahkan suap ke DPRD Kota Semarang untuk pengesahan APBD 2012. Kasus ini pengembangan saat KPK menangkap Sekretaris Daerah Kota Semarang saat itu, Akhmad Zaenuri, dan dua anggota DPRD Kota Semarang.

Sasmito menilai status narapidana yang melekat dalam diri Soemarmo tidak menjadi masalah. Apalagi, kata Sasmito, kasus yang pernah menjerat Soemarmo bukanlah kasus korupsi yang secara langsung menggarong uang negara. “Kasusnya ini spesifik. Tidak langsung kategori korupsi, tapi hanya menyuap,” ujar Sasmito. Suap itu pun tidak langsung dilakukan Soemarmo, tapi oleh Sekda Kota Semarang.

Sasmito menyatakan Partai Golkar pun sudah menelusuri duduk masalah kasus korupsi yang pernah menjerat Soemarmo. “Menurut cerita-cerita, Soemarmo hanya terkena nasib tidak baik sehingga (kasusnya) ditangani KPK,” tuturnya.

Saat ini, Golkar Jawa Tengah di setiap kabupaten/kota sudah memutuskan calon-calon yang bakal diusung di kabupaten/kota. Nama-nama yang terjaring akan dibawa ke pengurus pusat untuk mengantongi rekomendasi sebagai salah satu syarat mendaftar ke komisi pemilihan umum daerah.

Ismeth Abdullah, mantan Gubernur Kepulauan Riau, juga bakal tampil sebagai calon Wali Kota Batam periode 2015-2020. Keputusan Ismeth Abdullah untuk maju sebagai orang nomor satu Kota Batam ini diambil setelah adanya kepastian dari Mahkamah Konstitusi soal diperbolehkannya mantan narapidana mencalonkan diri sebagai kepala daerah.

Sebelumnya, majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta pada 28 Agustus 2010 menyatakan Ismeth bersalah karena korupsi dalam pengadaan mobil pemadam kebakaran di Otorita Batam tahun 2004-2005. Oleh Pengadilan, Ismeth dijatuhi hukuman pidana selama 2 tahun penjara plus denda Rp 100 juta. Atas putusan itu, baik Ismeth maupun jaksa KPK tidak banding sehingga putusan dinyatakan berkekuatan hukum tetap. Pada Juni 2011, Ismeth bebas bersyarat.
http://nasional.tempo.co/read/news/2…alon-wali-kota

——————————–

Terlalu ….

Sumber: http://adf.ly/1KfIqy


One comment

  1. KORUPTOR + TAI
    Puisi Acep Syahril

    di atas kloset tanpa mengetuk pintu dia
    masuk ke dalam dirinya seseorang sejak tadi
    menunggu untuk bercakap-cakap di sebuah ruang
    tak ber air condition sejuk aman dan dia sulit
    membayangkan betapa nyamannya
    di dalam tapi sayang dia jarang pulang

    selesai ngeden dia kembali ke dalam sejenak
    hidungnya terganggu oleh tainya yang meleset

    bukankah ini bau taimu yang sama dengan
    bau tai mereka lagi pula mengapa
    kau cemaskan fikiranmu ingin tampil dengan tai
    yang berbeda dan lolos cek tai dari pemeriksaan
    sebuah lembaga

    lalu dia geremet kepalanya membayangkan
    tai yang encer dan kelam biji kedele dari
    tempe kangkung dan bayam dari puluhan juta
    burit yang seringkali gagal dicerna

    lagi pula mengapa kau cemaskan fikiranmu
    bukankah tak ada cakar ayam gigi tetanggamu
    atau biji besi dari taimu untuk dijadikan
    barang bukti

    selesai ngeden dia merasa malu ketika
    seseorang itu semakin banyak tau tentang
    dirinya selain makanan yang dia konsumsi
    dan kloset tempatnya membuang tai menjadi
    focus percakapan

    mengapa kau cemaskan fikiranmu bukankah kloset
    dan tai tak boleh dihadirkan untuk jadi saksi

    sekali lagi dia geremet kepalanya sambil
    membayangkan anak-anak dan istrinya yang selalu
    ingin tampil beda dengan rumah serta
    perhiasan dan pasilitas mewah yang mereka punya
    tiba-tiba berubah jadi hewan buas yang
    perlahan-lahan menggerogoti daging serta akal
    fikiran mereka

    mengapa kau cemaskan fikiranmu
    bukankah semua itu hanya bagian dari gaya
    hidup yang juga dimiliki para penyidik
    pimpinan sidang atau hakim yang senantiasa
    tersenyum padamu
    selesai ngeden dia kembali kedalam tapi
    kali ini dia dikejutkan oleh wajahnya sendiri
    yang tampak tak utuh di tembok kramik serta
    kemaluannya yang mulai terhalang oleh lemak
    yang kian mumbung di perutnya

    mengapa kau cemaskan fikiranmu bukankah
    keberanian dan ketakutan adalah pilihan
    dan resiko yang akan menentukan
    jalan ke depan

    kembali dia geremet kepalanya dan
    membayangkan wajahnya muncul di televisi dan
    di koran-koran yang kemudian menghambat proses
    pelepasan tainya dengan posisi yang tidak
    nyaman di atas kloset serta tarikan nafas
    yang mulai tersendat membuatnya ingin selalu
    dekat pada seseorang tadi dengan bertanya apa
    yang harus kulakukan

    mengapa kau cemaskan fikiranmu
    padahal kau tak pernah mencemaskan
    kepiawaianmu menculik angka-angka dari sumber
    keringat dan darah serta menculik waktu yang
    tak mungkin bisa kau kembalikan seperti semula
    atau menculik kata-kata yang kau kira bisa bikin
    semua orang percaya

    pulanglah
    sering-seringlah pulang ke rumahmu ini sebelum
    kau benar-benar pulang cuma membawa daging busuk
    dan tai

    indramayu 2001

Join the Conversation

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*Komentar anda akan di moderasi.