[Go-Jekforia] Bagaimana Nasib Go-Jek Setelah Tidak Ada Lagi Tarif Promo?

Bagaimana Nasib Go-Jek Setelah Tidak Ada Lagi Tarif Promo?

Nadiem Makarim, CEO dari Go-Jek Indonesia, kini seperti menjadi selebritis yang dikejar-kejar oleh banyak wartawan. Hal ini wajar, karena startup buatan alumnus Harvard University tersebut kini tengah ‘booming’ di tanah air. Bisnis ojek konvensional yang mempunyai banyak kekurangan, ia ubah dengan teknologi mobile sehingga menjadi sebuah bisnis besar yang menjaring banyak tenaga kerja. Masyarakat Indonesia, terutama yang berada di Jakarta, pun menerima layanan ini dengan baik. Namun apakah kesuksesan ini akan berlangsung selamanya?

Apa Itu Gojekforia?

Lahandi Baskoro, penulis buku It’s My Startup! yang juga merupakan dosen di Fakultas Industri Kreatif Universitas Trilogi, beberapa waktu yang lalu membuat tulisan di situs Nextren.com terkait dengan masa depan Go-Jek. Dalam artikel tersebut, Lahandi melontarkan sebuah istilah yang cukup menarik, yaitu Gojekforia, sebagai penanda bagi masa-masa keemasan Go-Jek, seperti yang terjadi saat ini. Menurut Lahandi, Gojekforia dimulai dengan berita tentang besarnya pendapatan yang diraih para pengendara Go-Jek, yang kemudian diikuti dengan pemberian modal besar dari Sequoia Capital. Fenomena tersebut pun menjadi bola salju yang kian membesar. Gojekforia mencapai puncaknya ketika ribuan orang berkumpul di Senayan untuk mendaftar menjadi pengendara Go-Jek.

Tidak ada yang salah dengan perjalanan Go-Jek tersebut. Namun dari istilah Gojekforia yang dilontarkan Lahandi, ia menyiratkan kalau kesuksesan Go-Jek ini hanyalah sebuah euforia, yang dalam waktu dekat akan meredup. Mengapa Lahandi bisa berpendapat begitu? Karena sejak namanya mencuat hingga saat ini, Go-Jek masih terus menerapkan tarif promo di kawasan DKI Jakarta, demi menjaga penggunaan layanan Go-Jek agar tetap tinggi. Tarif promo Go-Jek dipatok Rp 10.000 untuk setiap perjalanan dengan jarak di bawah 25 KM, yang kini sudah dinaikkan menjadi Rp 15.000.

Selain itu, Go-Jek juga menerapkan sistem Referral, di mana apabila kita mengajak orang lain untuk membuat akun Go-Jek, kita dan orang yang kita ajak tersebut bisa mendapat voucher gratis untuk menggunakan Go-Jek dengan nominal tertentu.

2 taktik tersebut lumrah dalam bisnis, dan biasanya dilakukan apabila ada persaingan yang sengit antara 2 pebisnis di sebuah pasar yang sama. Saat ini, Go-Jek sedang bersaing dengan GrabBike yang juga memberlakukan tarif promo Rp 5.000. Singkatnya, Go-Jek saat ini sedang membuang-buang modal mereka demi mendapatkan banyak pengguna, yang nantinya diharapkan bisa setia menggunakan produk mereka. Namun, masalah diperkirakan akan muncul ketika berbagai promo tersebut ditarik. Akankah masyarakat yang selama ini memakai Go-Jek akan setia, atau malah berpaling dari Go-Jek?

Mengapa Go-Jek Disebut Sebagai Sebuah Euforia?

Charles Duhigg, dalam bukunya The Power of Habit, menjelaskan kalau untuk membentuk sebuah gaya hidup harus dimulai dengan ‘Cravings’. Cravings adalah hal menarik yang biasanya membuat kita langsung mengingat suatu hal, dan akhirnya bergerak untuk mendapatkannya. Itulah mengapa pasta gigi diberi rasa mint, agar ketika masyarakat tidak mendapatkan rasa mint di mulutnya, mereka akan segera mencari pasta gigi.

Jika melihat layanan on-demand-transportation yang lain, yaitu Uber, mereka mempunyai Craving atau hal menarik untuk ditawarkan, yaitu harga yang murah. Itulah mengapa saat ini masih banyak orang yang menggunakan Uber, terlepas dari kontroversi mereka dengan pihak pemerintah. Karena itu, setiap ada yang ingin menggunakan taksi, mereka akan ingat betapa murahnya Uber, dan langsung bergerak memesan Uber.

Namun apabila kita melihat Go-Jek tanpa tarif promo, tidak ada hal menarik lain yang mereka tawarkan. Tarif Rp 4.000/KM terasa masih cukup tinggi, malah harga tersebut bisa menjadi sama atau bahkan lebih mahal daripada ojek pangkalan. Kecepatan mengantar juga tidak ada bedanya dengan ojek pangkalan. Apabila kita berada di tempat yang dekat dengan ojek pangkalan, tentu lebih baik memanggil mereka dibanding memesan Go-Jek yang kadang dapat kadang tidak serta sering lama datangnya.

Karena itu, kemungkinan besar pengguna Go-Jek akan menurun setelah tarif promo dan program referral ditarik. Hanya orang-orang tertentu yang memang lokasinya jauh dari ojek pangkalan dan butuh transportasi cepat saja yang akan memakai Go-Jek. Yang menjadi mimpi buruk bagi Go-Jek adalah penurunan yang terjadi sangatlah drastis, sehingga membuat para pengendara mereka tidak mendapat pemasukan yang diharapkan.

Sistem tanpa kontrak antara Go-Jek dan para pengemudinya bisa menjadi titik lemah, di mana para pengemudi mereka bisa pergi begitu saja dan berganti pekerjaan apabila mereka merasa Go-Jek tidak lagi menjadi sumber pemasukan yang baik. Dengan begitu, jumlah pengendara Go-Jek pun akan menurun drastis seiring dengan menurunnya jumlah pengguna.

Ironisnya, penurunan jumlah pengemudi bisa membuat Go-Jek tidak lagi menjadi sebuah layanan yang layak karena pengemudinya menjadi sulit didapat, dan akhirnya berakibat pada penurunan jumlah pengguna yang semakin signifikan. Dan begitu seterusnya hingga akhirnya Go-Jek kembali menjadi startup kecil. Inilah mengapa Go-Jek dipandang sebagai sebuah euforia sesaat, bukan sebuah awal dari perusahaan yang akan berumur panjang.

Apa Strategi Terbaik Menghadapi Persaingan?

Berbicara tentang persaingan antar startup, tentu yang paling baik untuk dimintai pendapat adalah para investor yang memberi modal kepada para startup tersebut. Karena itu saya menanyakan hal tersebut kepada Teddy Himler, Wakil Presiden dari Softbank (Investor untuk Tokopedia, Alibaba, dll).

Menurut Teddy, tak selamanya persaingan itu harus dilakukan dengan perang harga (seperti yang saat ini terjadi antara Go-Jek dan GrabBike). Sebuah startup bisa menjadi lebih maju apabila mereka membuat strategi yang berbeda untuk lebih membantu masyarakat, seperti dengan membuat sistem baru atau layanan baru.

Go-Jek sebenarnya sudah melakukan hal tersebut dengan membuat layanan Go-Food, Instant Courier, dan Shopping. Bahkan Go-Jek pun membuat insentif sendiri bagi pengemudi yang menjalankan layanan-layanan tersebut, demi membuat layanan tersebut turut berjalan seiring dengan berkembangnya bisnis utama Go-Jek, yaitu mengantarkan orang. Namun beberapa pengemudi Go-Jek yang saya temui mengakui kalau mereka cenderung enggan mengambil pesanan untuk layanan tersebut. Lho mengapa? Ternyata faktor kesalahan yang bisa terjadi pada layanan membelikan makanan atau barang cenderung lebih tinggi, dan resikonya mereka harus bertahan diomeli oleh para pengguna. “Males Pak diomelin terus. Mending ngojek aja kayak biasa,” ujar seorang pengemudi Go-Jek pada saya.

Apa yang Harus Dilakukan Go-Jek Agar Tetap Eksis Setelah Tidak Ada Lagi Tarif Promo?

Hal pertama yang bisa dilakukan Go-Jek adalah mencoba menganalisa kecenderungan jarak tempuh pengguna, dan pada harga berapa mereka merasa nyaman. Bila diperlukan, Go-Jek mungkin harus menurunkan harga hingga batas di mana pengguna merasa nyaman, dan pengendara juga tidak merasa dirugikan.

Hal kedua adalah fokus mengembangkan bisnis lain, walaupun tetap bersinggungan dengan bisnis utama mereka. Seperti yang kita tahu, Go-Jek baru-baru ini meluncurkan layanan Go-Box di mana mereka siap mengantarkan barang dengan truk. Dalam waktu dekat dikabarkan mereka akan meluncurkan Go-Mart, yang merupakan pengembangan dari layanan Shopping di mana pengguna bisa minta dibelikan barang-barang tertentu di pusat perbelanjaan yang kemudian akan diantarkan langsung ke rumah.

Layanan-layanan tersebut, ditambah dengan layanan Go-Food yang memang sudah ada, berpotensi untuk menjadi ladang uang bagi Go-Jek. Memang mereka akan mempunyai pesaing, namun belum ada yang mempunyai infrastruktur pengendara seperti yang dimiliki Go-Jek. Apabila Go-Jek bisa menghilangkan keengganan para pengemudi mereka dari layanan-layanan tersebut, Go-Jek mungkin bisa tetap eksis dan tidak terlalu bergantung pada bisnis ojek mereka.

Nadiem Makarim, sang CEO, sebenarnya telah menyiratkan hal ini ketika diwawancara oleh Techinasia. Nadiem mengatakan kalau suatu saat nanti sistem transportasi di Indonesia sudah baik, dan ojek sudah tidak dibutuhkan lagi, Go-Jek akan tetap memberikan lapangan kerja kepada para pengemudi mereka untuk mengantarkan barang lain.

Apabila mereka telah menjalankan bisnis lain seperti yang saya sebutkan di atas, terutama bisnis Courier, maka Go-Jek punya peluang untuk melakukan saran ketiga saya, yaitu bekerja sama dengan e-commerce atau perusahaan lain untuk mengantarkan barang. Uber sudah mencoba melakukan ini dan berhasil menjalin kerjasama dengan klub sepakbola Chelsea dan produsen smartphone Xiaomi. Mereka terbukti mampu melakukannya dengan cukup baik bila kita bandingkan dengan jasa kurir konvensional.

Sumur

Benarkah begitu agan2?

Sumber: http://adf.ly/1NbHAR

Kata kunci terkait:

penghasilan grabbike menurun, blu jek bangkrut, kaskus uberjek, suspend grabbike, rompi grabbike

Start a Conversation

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*Komentar anda akan di moderasi.