Duh, Pidato “Pribumi” Gubernur DKI Bisa Memancing Disigregasi!

Penggunaan diksi “pribumi” oleh Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, saat pidato pelantikannya kemarin (16/10) menuai banyak kecaman dari publik. Banyak tafsir muncul dari publik terkait pernyataan Gubernur tersebut. Dan, ternyata, respon atas hal tersebut tak berhenti di situ saja.

Sangat disayangkan, setelah kejadian itu beredar tulisan di sosial media yang berisi upaya penyudutan atas etnis Tionghoa.

Duh, Pidato "Pribumi" Gubernur DKI Bisa Memancing Disigregasi!

Dalam tulisan yang viral itu, substansinya adalah membela bahwa Anies tidak sedang berbuat rasis. Tapi memang bangsa Tionghoa itu sendiri yang rakus. Bahkan, juga diikuti beberapa pernyataan dari tokoh publik terkait sifat negatif etnis Tionghoa.

Tentu, kita sangat menyayangkan atas beredarnya tulisan seperti di atas. Karena hal tersebut dapat menyulut perpecahan diantara bangsa Indonesia sendiri.

Di hadapan Negara Kesatuan Republik Indonesia, semua orang (apapun agama, suku atau etnisnya) tidak boleh dibeda-bedakan. Semuanya adalah warga negara yang memiliki kedudukan yang setara.

Bangsa Indonesia itu sangat beragam yang terdiri dari berbagai suku, agama, dan etnis. Dengan demikian, Indonesia bukan milik satu etnis atau agama tertentu saja, tetapi milik semuanya, termasuk etnis Tionghoa yang terlahir dan menjadi warga negara Indonesia.

Apa yang disampaikan dalam tulisan yang sangat provokatif atas etnis Tionghoa itu, tidak akan mengubah kesetaraan warga negara beretnis Tionghoa. Mereka tetap warga negara Indonesia, yang harus dilindungi sesuai konstitusi dan wajib menjalankan kewajiban warga negara.

Kita harus waspada dengan tulisan-tulisan provokatif yang berpotensi memecah belah, dan mengancam persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Upaya adu domba ini harus dihentikan agar konflik antar golongan di masyarakat tidak terjadi.

Apalagi kita telah mengalami bagaimana kerusakan yang diakibatkan dari konflik berdasarkan identitas, seperti kasus Mei 1998 atau kerusuhan di Poso dan Ambon. Kita harus belajar dari kasus-kasus tersebut dengan tujuan agar tak terulang kembali.

Kita sebagai bangsa Indonesia yang bersaudara satu sama lain, sebaiknya tidak perlu lagi berfokus pada perbedaan etnis, suku, atau agama. Karena perbedaan adalah takdir Tuhan YME. Alangkah baiknya bila kita saling bekerjasama untuk memajukan negara ini.

Kembali lagi, seperti yang diungkapkan di atas, pernyataan Gubernur Jakarta yang baru, Anies Baswedan ini tak layak untuk ditiru. Karena membangkitkan kembali segregasi rasial di tengah iklim politik identitas yang sedang memanas.

Kita berdoa saja semoga Indonesia dapat selamat menghadapi ‘badai’ perbedaan karena identitas ini. Semoga Tuhan berada di pihak kita.


Start a Conversation

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*Komentar anda akan di moderasi.