Mahasiswi Cantik Pengidap ALS Minta Berhenti Dirawat, Sumbangkan Kepala Di S

youtube-thumbnail

Pada tahun 2015 seorang wanita muda menduduki peringkat pertama dalam ujian masuk di sebuah universitas bergengsi menderita Amyotrophic lateral sclerosis (ALS).

Wanita itu adalah Lou Tao (28), mahasiswi program gelar PhD jurusan sejarah di Peking University, Beijing, Tiongkok.

Menyadur Shanghaiist, Rabu (18/10/2017), ALS termasuk penyakit langka, yang tidak menyerang banyak orang.

Penyakit tersebut merusak fungsi saraf secara berlanjut dan akan terus meluas ke bagian lainnya.

Akibatnya, fungsi dan kekuatan otot akan menurun, dan juga mempengaruhi sel saraf di otak dan sumsum tulang belakang.

Karena penyakit tersebut, Lou kemudian mulai tidak bisa menggerakkan kaki kirinya, dan kondisinya semakin memburuk.

Sejak Januari 2017, ia sudah dipindahkan ke ruang ICU.

Pada Sabtu (7/10/2017), Lou mengatakan pada ayahnya bahwa dia ingin menghentikan perawatannya di rumah sakit dan mendonasikan organ-organ tubuhnya.

Dirinya bahkan melakukan aksi mogok makan untuk membuat sang ayah menyetujui permintaannya.

Lou juga akan mendonasikan kepalanya untuk kepentingan penelitian medis.

Wanita cantik itu meminta perawat untuk menuliskan surat wasiatnya.

“Setelah aku meninggal, aku ingin mendonasikan kepalaku untuk penelitian medis. Aku harap suatu hari nanti kita bisa menemukan pengobatan untuk ALS, sehingga tidak ada lagi umat manusia yang menderita penyakit itu,” katanya.

Ia juga berniat menyumbangkan organ tubuhnya untuk menyelamatkan nyawa orang-orang yang membutuhkan.

Teman-temannya telah mengumpulkan uang lebih dari Rp 2 juta untuk biaya perawatannya.

Namun, di dalam suratnya Lou mengatakan tidak ingin menerima uang dari orang lain.

“Aku ingin tubuhku yang lain dikremasi, dan abunya ditebarkan di sungai Yangtze. Tidak ada upacara pemakaman atau batu nisan.

Tolong biarkan aku pergi dengan tenang, tanpa jejak, seolah-olah aku tidak pernah ada di dunia ini.”

“Makna hidup tidak diukur dari seberapa lama seseorang hidup, tapi kualitas hidup orang itu,” kata Lou di akhir surat wasiat.

Hidup Lou berakhir dengan tragis, tapi segala kenangannya akan terus hidup dalam kehidupan orang-orang yang akan ia selamatkan.


Start a Conversation

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*Komentar anda akan di moderasi.