Pertandingan Derby Stu Kota Terpanas Dunia Sepakbola

Dunia sepak bola penuh dengan persaingan, beberapa lebih penting daripada yang lain. Sebagian besar derby sekota lebih dari sekedar olahraga sepak bola, namun berkaitan dengan perbedaan budaya, status keuangan, politik dan agama. Tak jarang kekerasan dan korban jiwa melayang. Dalam artikel ini kami telah memilih 12 derby sekota terpanas di dunia sepakbola.

1. Galatasaray vs Fenerbahce

Kota Istanbul, dipisahkan oleh selat Bosphorus. Eropa di satu sisi dan Asia di sisi lain. Galatasaray terletak di sisi Eropa sedangkan Fenerbahce, yang sebagian besar merupakan kelas pekerja bawah terletak di sisi Asia. Galatasaray, didirikan pada tahun 1905 oleh para siswa SMA Galatasaray, didukung oleh orang kaya dan terkenal. Perbedaan kelas telah pudar dalam beberapa tahun terakhir, dan saat ini kedua klub tersebut diwakili dengan penggemar dari kebanyakan kelas sosial.
Persaingan panas mulai terjadi pada pertandingan 23 Februari 1934. Kala itu, pertandingan dihentikan sementara karena di dalam dan luar lapangan Stadion Taksim menjadi arena perkelahian antara kedua pemain dan pendukungnya. Sejak itulah hubungan baik Fenerbahce berakhir sekaligus menjadi insiden yang mengubah sepakbola Turki selamanya.

Graeme Souness pun pernah merasakan panasnya Intercontinental Derby sekaligus menjadi orang yang paling dibenci Fenerbahce. “Saat aku melakukannya dan berada di sana, akun benar-benar sadar bahwa para suporter (Fenerbahce) berusaha untuk masuk lapangan dengan cepat,” celoteh Souness seperti dikutip dari Last World on Football.

Ketka pertandingan Derby ini tersaji, pertarungan melibatkan segalanya. Mulai dari rasisme, vandalisme, pertarungan di lapangan dan hooliganisme. Seperti pada tahun 2013, ada penusukan kepada pendukung Fenerbahce serta nyanyian rasis yaPertandingan Derby Stu Kota Terpanas Dunia Sepakbolang ditujukan kepada pemain asal Afrika. Itu adalah sisi gelap yang terdapat di daftar panjang dari persaingan sepakbola di Turki dan membuat derby ini selalu menarik di setiap pertemuannya.

2. AS Roma vs Lazio

“Derby Della Capitale”. Kedua tim membenci kesombongan tim utara, seperti Juventus dan AC Milan, tapi mereka saling membenci bahkan lebih. AS Roma memiliki basis penggemar terutama di bagian dalam kota sementara Lazio didukung dari daerah kaya di distrik Romawi. “Curva Sud” (Roma) dan “Curva Nord” (Lazio) menciptakan atmosfir yang luar biasa di Stadion Olympico pada hari-hari menjelang pertandingan derby.

Dahulu salah satu tokoh fasisme dunia yakni Benito Musollini ingin menyatukan kesebelasan sepakbola dengan berbasis di kota Roma agar menyeimbangkan sepakbola di Italia tidak hanya kawasan utara saja. Tapi cuma Si Elang (Le Aquile), julukan Lazio, yang menolak bergabung dengan kesebelasan lain sepreti Roman FC, SS Alba-Audace dan Fortitudo-Pro Roma SGS pada musim panas 1927. Penolakan Lazio untuk bergabung menjadi awal permusuhan abadi mereka dengan Roma.

Pertempuran antara suporter pun semakin sering terjadi setelah sama-sama bermarkas di Olimpico. Pada 1979 penggemar Lazio bernama Vicenzo Paparelli mesti meregang nyawa karena kepala dan matanya dipukul memakai suar (red flare) Ultras Roma. Vicenzo menjadi pendukung sepakbola pertama yang tewas di ranah sepakbola Italia. Ya, lebih tepatnya lagi di Derby della Capitale.

Klik Disini gan untuk lihat daftar lainya


Start a Conversation

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*Komentar anda akan di moderasi.