Nurdin Halid Enggan Jadi Ketum Golkar, Fokus Bangun Sulsel Baru

Nurdin Halid Enggan Jadi Ketum Golkar, Fokus Bangun Sulsel Baru

Ketua Harian Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar, Nurdin Halid memastikan diri tidak akan meramaikan bursa calon ketua umum Partai Golkar itu. Dia mengaku lebih memilih maju sebagai bakal calon gubernur di Pilkada Sulawesi Selatan 2018.

“Saya mau fokus di Sulawesi Selatan,” kata Nurdin Halid di Makassar, Rabu 6 Desember 2017.

Nurdin berharap siapa pun yang maju sebagai calon ketua umum adalah kader Golkar yang mempunyai visi dan misi membawa partai tersebut ke arah yang lebih baik. Nurdin Halid menilai, ada tiga kriteria ideal calon Ketua Umum Golkar.

Pertama, calon ketua umum harus figur yang dapat menjadi simbol partai. Dia dituntut bekerja ekstra menghadapi Pilkada serentak 2018, serta Pemilihan Pemilu 2019 mendatang. Kedua, calon ketua umum Golkar harus kader asli partai Golkar. “Jadi tidak perlu lagi ada penyesuaian karena sekarang harus kerja cerdas, cepat dan tepat,” ucap dia. Ketiga, lanjut Nurdin, calon ketua umum harus orang yang tidak memiliki masalah agar ia bisa fokus mengurus Partai Golkar.

“Kriteria ketiga yakni figur itu tidak memiliki banyak masalah sehingga bisa fokus mengurus Golkar,” kata Nurdin.

Nurdin menyebut ada sejumlah nama yang pantas menjadi pucuk pimpinan di Partai Golkar. Menurutnya, saat ini Partai Golkar punya banyak kader yang handal untuk menggantikan Setya Novanto.

“Ada Airlangga Hartarto, Idrus Marham, Titiek Soeharto, Aziz Syamsuddin dan Indra Bambang Utoyo. Ada banyak, jadi terlalu sedikit kalau disebut hanya ada tiga kader calon ketua umum,” paparnya.

Dia memastikan diri akan fokus pada pencalonan dirinya di Pemilihan Gubernur Sulawesi Selatan 2018 mendatang.

“Saya tidak pernah kejar kekuasaan, saya mau mengabdi di Sulsel. Jadi kalau ditanyakan soal bursa ketua umum (Golkar), ya Nurdin Halid fokus urus Sulawesi Selatan,” ujar Nurdin Halid.

Bursa calon Ketua Umum Golkar diketahui kembali berembus setelah wacana pelaksanaan musyawarah luar biasa atau munaslub menguat. Nurdin Halid mengakui munaslub mutlak dilakukan.

Tapi, keputusan akhir bergantung pada hasil rapat pimpinan nasional (rapimnas). Dalam waktu dekat, Golkar akan menggelar rapat pleno untuk menetapkan jadwal rapimnas.

“Dalam Rapimnas nanti baru bisa diputuskan apakah perlu menggelar munaslub atau tidak,” tutup Ketua Harian DPP Partai Golkar.

Sumber : Liputan6


Start a Conversation

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*Komentar anda akan di moderasi.