Anak Jalanan Jadi Target Kaum Pedofil

[img]anak-jalanan-1[/img]

Law-Justice.co – Kasus eksploitasi dan kekerasan pada anak masih terus berulang. Peristiwa yang masih hangat adalah beredarnya video porno yang melibatkan anak dan orang dewasa.

Menanggapi masalah ini, Susianah Affandy Komisioner KPAI mengatakan, peristiwa tersebut menjadi bukti lemahnya pengawasan terhadap anak jalanan. Ketiga bocah yang terlibat dalam video porno itu adalah pengamen yang masuk dalam kategori penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS). Meski pun demikian, Polisi Daerah Jawa Barat enggan mengakui mereka sebagai anak jalanan dengan dalih masih memiliki orang tua.

Susianah melanjutkan, kondisi ekonomi yang sulit dapat dimanfaatkan oleh sindikat pedofil untuk menjadikan anak sebagai korban. Penelusuran KPAI, keluarga tersebut tinggal di sekitar Kiaracondong, Bandung, Jawa Barat, di pinggir rel kereta api. Orang tua ketiga anak tersebut bekerja sebagai pemulung.

KPAI merekomendasikan pemerintah untuk memperkuat perlindungan anak berbasis keluarga. “Pilar perlindungan anak yang utama ada di keluarga. Keluarga harus berdaya,” jelasnya.

Tanpa pendekatan tersebut, tambah Susianah, maka penanganan PMKS belum berjalan maksimal. Ia mengatakanbahw sangat berbahaya apabila anak tidak mengerti tentang badannya dan mereka hanya tahu mesti menyetor uang ke orang tuanya.

Psikolog Anak Amanda Margia Agustario menjelaskan anak yang pernah mengalami kekerasan seksual, perkembangan seksualnya akan terganggu.

Ia mengatakan, anak yang mengenal hubungan seksual lebih awal, akan berusaha mengulang pengalaman tersebut. Hubungan dengan lawan jenis bukan lagi sekadar relasi mengenal karakter, namun cenderung tertuju pada perilaku seksual.

Menurut Amanda, tidak semua aktivitas seksual menimbulkan trauma sejak awal. Jika pelaku melakukan pendekatan secara halus, bisa jadi anak malah merasa nyaman dan tidak merasa menjadi korban.

Jika situasinya seperti itu lanjut Amanda, korban bisa jadi malah bersikap membela pelaku. Terlebih bila anak tidak memiliki figur orang atau pengasuh yang menunjukkan teladan serta kasih sayang. Sebaliknya, jika korban mendapat kekerasan seksual yang menimbulkan trauma, maka diperlukan waktu panjang dalam memulihkan psikis.

Anak yang menjadi korban juga perlu diperbaiki pola pikirnya dengan cara mendapat pengakuan dan perlakuan yang lebih baik, serta memberi tahu bahwa tindakan yang dilakukan oleh pelaku adalah salah.

Menurut Amanda, biasanya korban memiliki konsep diri yang negatif dan keterampilan sosial yang kurang sehingga harus segera ditangani. “Hal itu harus diperbaiki seiring dengan pemulihan trauma kekerasan,” jelasnya.

(Adi BriantikaReko Alum)


Start a Conversation

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*Komentar anda akan di moderasi.