Sebelum Mati, Pitung Menyanyi Lagu Indung-indung

[img]rumah-si-pitung[/img]

Law-Justice.co – Masyarakat khususnya di Jakarta pasti akrab dengan nama Pitung alias Solihun. Jawara Betawi itu dianggap pahlawan oleh rakyat kala itu karena keberaniannya melawan penjajah Belanda.

Ibu Pitung adalah seorang perempuan keturunan Cirebon dan ayahnya berasal dari Tangerang. Ia diperkirakan lahir pada tahun 1864. Namun, ada juga yang menganggap Pitung nama ormas yang berisi tujuh personel jawara ibukota tempo dulu.

Ridwan Saidi, budayawan Betawi mengatakan, Pitung adalah tokoh nyata dan bukan misteri. Dia bukan pula nama ormas yang terdiri dari tujuh puluh personel yang kerap didesas-desuskan. “Jadi, bukan Pitung Pitulungan, atau Pitung Pitu’il. Bukan juga Pitung temannya Ismail,” ujar mantan Ketua Umum PB HMI tahun 1974-1976 tersebut.

Dalam buku “Golok Wa Item, Sejarah Power System Sunda Kalapa” Ridwan menulis tentang sosok Pitung berasal dari kalangan jelata. Ia adalah tokoh asli Betawi yang pandai menulis dan membaca tulisan Arab. Selama tahun 1886 hingga 1894 Pitung telah melakukan beberapa pemberontakan tunggal.

“Tuan Gubernur begitu marah kenapa orang nama Pitung sudah begitu lama tidak bisa ditangkap. Maar orang itu sudah bikin guncang Kota Batavia. Saya jadi hairan waaroom Schout Hijne pigi maen dukun. Maar ini problem ada begitu rationeel, sudah banyak spoor sekarang pigi sana sini. Tuan GG perenta pada Hijne yang dia orang misti pasang mata-mata dimana spoor,” tutur Ridwan Saidi menirukan ucapan petinggi Batavia saat itu yang geram pada Pitung.

Sepak terjang Pitung dalam melakukan pemberontakan melawan penjajah akhirnya berakhir juga. Ia ditangkap pada tahun 1894. Menurut Ridwan, Scout van Hijne, Kepala Polisi Batavia saat itu percaya pada dukun yang mengatakan Pitung bisa dilenyapkan oleh peluru berlapis emas. Nyawanya melayang di tangan tentara Belanda dengan empat peluru bersarang di tubuhnya.

Sebelum ditembak mati, Pitung sempat minta dibelikan tuak dengan es sambil menyanyikan lagu pengantar tidur. Syairnya berisi tentang kerinduan seseorang pada sosok ibu. “Ia menyanyi lagu lullaby atau nina bobo, indung-indung. Pitung ingat emaknya yang selalu menidurkannya sambil menyanyikan lagu Batavian Lullaby,” kata Ridwan Saidi.

Peninggalan jawara Betawi ini, masih bisa dilihat di Rumah si Pitung di kawasan Merunda Jakarta Utara. Di sana dipamerkan benda-benda yang pernah dipakai Pitung semasa hidupnya.

(Adrian SyahalamReko Alum)


Start a Conversation

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*Komentar anda akan di moderasi.