Jika Tak Ada Deng Xiaoping, China Mungkin Jadi Negara Miskin Terbelakang

Reporter : Ramadhian Fadillah
Merdeka.com – Jika tak ada Deng Xiaoping mungkin China masih akan menjadi negara miskin dan terbelakang hari ini. Dialah orang yang mereformasi perekonomian China hingga menjadi salah satu raksasa ekonomi dunia.

READ MORE
Patah Hati Saat Gebetan Sudah Punya Pacar? Jangan Galau Ladies
3 Jam Menikah, Wanita Ini Ceraikan Suaminya & Nikahi Pria Lain
Deng sukses mengubah negara kelaparan itu menjadi kekuatan ekonomi yang mampu bersaing ketat dengan Amerika. Dia menghapus doktrin komunis tua yang dibanggakan Ketua Mao. Membuka tirai bambu Tiongkok untuk investasi dan kepemilikan modal.

Setelah perang saudara yang melelahkan dengan kaum Nasionalis, Mao Zedong memimpin China memasuki era komunisme. Tahun 1958, Mao bermimpi mengubah China menjadi negara industri sekuat Amerika Serikat dan Inggris. Proyek ambisiusnya disebut dengan program ‘Lompatan Jauh ke Depan’. Dia yakin kekuatan rakyat akan bisa melakukan apa saja.

“Mengungguli Inggris tak butuh 10 tahun, bisa dua atau tiga tahun saja,” sesumbar Mao waktu itu. Demikian ditulis Jurnalis Samuel Johnson dalam bukunya Mao’s Great Famine.

Mao juga ingin mempermalukan Uni Soviet yang saat itu dianggap sebagai negara komunis adidaya. Dihinanya Kamerad Khrushchev yang tak bisa berenang dengan sengaja menggelar pertemuan di kolam renang.

“Beras kami banyak. Sampai tak tahu mau diapakan lagi,” kata Mao membual.

Seruan Mao segera bergaung ke seluruh negeri. Pemerintah komunis merampas tanah milik perorangan dan mengubahnya menjadi milik negara. Mao mengerahkan jutaan orang untuk bertani dan bekerja di pabrik baja.

Tapi fakta selanjutnya sangat mengerikan. Strategi peningkatan pangan ala Mao gagal total. Bibit gandum yang ditanam terlalu dekat malah tak bisa tumbuh. Ditambah lagi China dilanda bencana kekeringan dan banjir besar.

Tahun 1958 hingga 1962 tak kurang dari 43 juta orang meninggal karena bencana kelaparan. Di desa-desa mayat kurus kering berserakan. Pengawal Merah yang kejam bahkan menjadikan mayat ini sebagai pupuk di lahan pertanian massal. Mao telah membawa China ke ambang kehancuran.

Pandangan ekonomi Mao ini ditentang Deng Xiaoping, salah satu petinggi Partai Komunis China. Pandangan Deng, sosialisme bukanlah kemiskinan.

Lahir dari keluarga petani kaya di Provinsi Sinchuan, Deng melanjutkan pendidikan di Prancis pada usia 15 tahun. Dia juga sempat bersekolah di Rusia. Hingga pada 1926, Deng Xiaoping memutuskan kembali ke China. Dia segera menjadi petinggi Partai Komunis.

Awalnya Deng dan Mao berkawan baik, namun kemudian Deng disingkirkan karena dianggap mengkritik Sang Ketua.

Penyakit Perdana Menteri Zhou Enlai yang semakin parah, menjadi berkah tersendiri bagi Deng. Deng kembali dipanggil untuk diangkat menjadi wakil perdana menteri tahun 1975. Dia diminta mengurusi pemulihan ekonomi pasca kegagalan program pembangunan Mao Zedong.

Deng memutuskan China butuh bantuan asing untuk membangun negeri. Ketua Mao dan pendukung setianya marah luar biasa. Deng hampir dihukum mati karena dinilai sebagai pendukung negara Barat. Namun, akibat kematian Mao pada 1976, Deng selamat.

Kematian Mao menjadi titik balik karir Deng Xiao Ping. Dia menjadi orang nomor satu di China menggantikan Mao. Pada 1978, Deng menggagas reformasi China bernama Gaige Kaifang (reformasi dan keterbukaan) dengan sistem pasar-sosialis. Empat pilar modernisasi kali ini ialah pertanian, industri, teknologi, dan pertahanan.

“Bukanlah dosa jika seseorang menjadi kaya,” kata Deng.

Dia menjungkirbalikan slogan sama rata sama rasa. Jelas ini sesuatu yang haram di era Mao. Deng menilai seseorang harus dihargai berdasarkan kemampuan dan kerja kerasnya. Hal ini juga bisa memotivasi rakyat.

Reformasi ekonomi China dimulai dengan sektor pertanian. Pemerintah mengembalikan kepemilikan tanah pada rakyat. Seiring berjalannya waktu, investasi asing langsung di China turut menumbuhkan pusat-pusat industri. Deng menyebutnya sebagai sosialisme ala China.

“Tak masalah kucing itu berwarna hitam atau putih selama dia bisa menangkap tikus,” kata Deng soal politik luar negeri China.

China, pada 1980 menggagas pembentukan Zona Ekonomi Khusus di Provinsi Guangdong yang terdiri dari Shenzhen, Zhuhai, dan Shantou serta di Fujian. Konsep kota ini memberikan perlakuan khusus sektor industri seperti keringanan pajak dan berbagai infrastruktur seperti jalan raya, listrik, dan pelabuhan.

Deng juga giat mengirimkan anak-anak muda China belajar ke luar negeri di segala bidang. Dia berharap merekalah kelah yang akan membangun China.

“Lihatlah saat mereka kembali, mereka akan membawa keajaiban untuk negara ini,” kata Deng.

Langkah Deng terbukti tak salah. Perekonomian China terus tumbuh.

Pada 1990, Deng Xiao Ping pun harus mengundurkan diri dari pemerintahan karena usia tua dan masalah kesehatan yang kerap mengganggunya. Hingga pada 1997, Deng tutup usia pada usia 92 tahun.

Presiden China saat itu, Jiang Zemin, pun meneruskan semangat perubahan Deng. Ideologi ekonomi terbuka terus dilanjutkan dan sukses menjadikan China salah satu kekuatan besar ekonomi dunia.

Nama Deng pun selalu disebut dengan hormat dalam kongres Partai Komunis China. “Teori ekonomi Deng Xiaoping yang gemilang.”

http://m.merdeka.com/amp/uang/jika-tak-ada-deng-xiaoping-china-mungkin-jadi-negara-miskin-terbelakang.html


Start a Conversation

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*Komentar anda akan di moderasi.