Setelah Sempat Menguat 10 Poin, Rupiah Kembali Melemah

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali melemah hari ini. Mengutip data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang dipublikasikan Bank Indonesia, Selasa (13/2) dolar AS tercatat menguat ke Rp 13.644/US$. Pada hari sebelumnya, Senin (12/2) dolar AS tercatat melemah ke Rp 13.609/US$.

Padahal Selasa pagi tadi nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank sempat bergerak menguat sebesar 10 poin menjadi Rp13.629 dibandingkan sebelumnya pada posisi Rp13.639 per dolar AS.

Ekonom Samuel Sekuritas Ahmad Mikail di Jakarta, mengatakan dolar AS bergerak mendatar dengan cenderung melemah terhadap sejumlah mata uang dunia, termasuk IHSG di tengah antisipasi pelaku pasar uang terhadap inflasi Amerika Serikat periode Januari 2018.

“Dolar AS tertahan seiring dengan masih tingginya ketidakpastian apakah data inflasi Januari AS akan lebih tinggi atau rendah,” katanya seperti dikutip Antara.

Ia menambahkan bahwa di tengah situasi itu, ruang bagi mata uang rupiah untuk menguat cukup terbuka, apalagi dalam beberapa hari terakhir ini cenderung mengalami pelemahan terhadap dolar AS.

“Rupiah di pasar spot diperkirakan bergerak di rentang Rp13.550-Rp13.650 per dolar AS,” katanya.

Analis Binaartha Sekuritas Reza Priyambada menambahkan bahwa sentimen mengenai tren penurunan defisit yang berlanjut memberi harapan positif bagi pelaku pasar uang, diharapkan perbaikan itu terus berlanjut.

“Sejumlah kebijakan moneter dan makroprudensial dari pemerintah diharapkan terus berjalan baik sehingga mendukung ekonomi nasional,” katanya.

Mengutip Reuters, nilai tukar rupiah berpeluang menguat ke kisaran Rp 13.560/dolar AS. Berdasarkan pendekatan Ichimoku Cloud, bila rupiah mampu menembus level Rp 13.480/dolar AS maka kecenderungan untuk penguatan lebih lanjut semakin terbuka.

Rupiah Melemah 2,35% dalam Sebulan Terakhir

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) cenderung bergerak melemah dalam beberapa hari terakhir. Padahal terhadap mata uang regional, greenback justru melemah.

Dalam sebulan terakhir, rupiah melemah 2,35% terhadap dolar AS. Dalam periode yang sama, ringgit Malaysia menguat 0,5%, baht menguat sampai 1,33%, dan yen menguat 1,68%.

Setidaknya ada dua alasan yang menyebabkan rupiah agak loyo. Pertama adalah sokongan dana asing di pasar keuangan. Situasi pasar yang sedang bergejolak akhir-akhir ini menyebabkan investor cenderung mencari selamat masing-masing dengan melepas aset-aset berisiko, termasuk yang berbasis rupiah.

Dalam riset Bank Danamon, disebutkan bahwa aliran modal keluar (capital outflow) di pasar saham dan obligasi domestik mencapai Rp 9,8 triliun selama dua pekan terakhir. Ini yang menyebabkan rupiah mengalami tekanan, demikian seperti dilansir CNBC Indonesia.


Start a Conversation

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*Komentar anda akan di moderasi.