Debat Kandidat Calon Bupati Dan Wakil Bupati Polewali Mandar

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ijinkan saya sedikit berbagi pengalaman dan informasi, sebagai seorang masyarakat yang kebetulan diperkenankan hadir dalam debat putaran kedua dan ketiga calon bupati dan wakil bupati Polewali Mandar.
Semoga tulisan ini tidak terkesan memihak maupun memojokkan salah satu kandidat.

Setelah dua kali mengikuti debat publik calon bupati dan wakil bupati Polewali Mandar, pada tanggal 4 juni 2018 dan 19 juni 2018, secara umum sependek yang bisa saya tangkap, pendalaman visi dan misi serta penguatan jawaban pasangan calon dari pertanyaan panelis masih cukup dangkal dan masih normatif.

Pada dua putaran debat yang saya ikuti, yang menarik pasangan nomor urut satu cukup banyak menyerang pasangan nomor urut dua, namun dengan mudah dibantah oleh pasangan nomor dua. Karena mereka memiliki kekuatan berupa pengalaman dan sistem pemerintahan yang mereka jalankan. Bahkan hampir disemua sesi, pasangan nomor urut dua terlihat santai dan sesekali tersenyum menanggapi pertanyaan dan sanggahan dari pasangan nomor urut satu. Mungkin karena hal tersebut sudah merupakan hal yang telah dikerjakan.

Di debat publik putaran kedua (04 juni 2018) pasangan nomor urut satu lebih sibuk melontarkan serangan meskipun tetap menyiapkan solusi juga tawaran alternatif.
AIM-Natsir diuntungkan oleh pengalaman mereka dan kegiatan serta perencanaan yang sudah dijalankan dimasa jabatannya. Sedangkan pasangan Salim-Marwan, pun sama memiliki data namun justru berbeda dengan yang disampaikan pasangan nomor urut dua. Seperti ada dua data yang sama-sama diakui keakuratannya. Data tersebut juga dijadikan sebagai pedoman dalam debat.

Debat publik putaran kedua ini menguntungkan pihak pasangan calon nomor urut dua, dengan berbagai pencapaian yang telah diraih. Kebanyakan yang disampaikan adalah prestasi yang dicapai selama menjabat sebagai bupati. Walhasil pertanyaan yang disampaikan oleh lawan debat dalam hal ini pasangan nomor urut satu, tentang indikator tata kelola pemerintahan yang baik serta fungsi e-government sempat terabaikan.

Diputaran ketiga (19 juni 2018) debat kandidat, penguasaan visi misi masih monoton.
Tidak ada gagasan yang cukup menarik yang patut digaris bawahi dari kedua kandidat.

Pasangan nomor urut satu masih dengan strategi yang sama yaitu dengan strategi “menyerang”, sedangkan pasangan nomor urut dua masih dengan menggunakan strategi “bertahan” dengan mengedepankan prestasi yang telah dicapai sebagai petahana.
Bahkan disalahsatu segmen, moderator sempat melontarkan pernyataan menohok dari panelis yang dibacakan dalam penguatan visi misi. Moderator menyebutkan bahwa pasangan nomor urut dua tidak memiliki perubahan dalam visi misi, hanya melanjutkan dari apa yang telah dikerjakan sebelumnya. Pernyataan tersebut cukup mengagetkan, karena pada dasarnya moderator semestinya moderat dan tidak terkesan memihak.

Disegmen satu pertanyaan tentang korupsi dan narkoba. Masing-masing pasangan calon memberikan jawaban yang berbeda. Jika Salim-Marwan menjawab dengan memaparkan cara untuk memberantas narkoba dan korupsi, pasangan AIM-Natsir justru memberikan informasi kepada masyarakat bahwa Polewali Mandar telah mendapatkan WTP dua tahun berturut-turut dimasa jabatannya, serta mengatakan bahwa Polewali Mandar adalah daerah dengan pengguna narkoba terendah di Sulbar. Hal ini ditanggapi oleh pasangan nomor urut satu yang menyatakan bahwa WTP bukan jaminan tidak adanya korupsi, menurutnya di DPR RI pun mendapatkan WTP namun pada kenyataannya ketua DPR RI menjadi tahanan KPK.

Isu Disabilitas, perempuan dan anak yang disatukan dalam satu segmen pertanyaan menurut saya kurang efektif. Sebab ketiga isu ini merupakan masalah yang tak kalah pentingnya.

Pertanyaan dari panelis yang dibacakan oleh moderator tentang langkah kongkrit dalam memberikan jaminan regulasi, aksi dan relokasi anggaran tidak dijawab dengan cukup memuaskan oleh setiap pasangan calon.
Terlebih mengenai isu disabilitas, dari dua pasangan calon, sepertinya kurang serius menanggapi hal ini.
Jika dibandingkan dengan kota lain di Indonesia, penyandang disabilitas diberdayakan melalui pemberian keterampilan dan kompetensi untuk bekerja.
Bahkan di Jakarta dimasa pemerintahan Ahok-Djarot memastikan kuota dua persen untuk bekerja sebagai aparat sipil negara (ASN) di pemerintahan provinsi sesuai UU No 8/2016 tentang Penyadang Disabilitas.
Meskipun tak adil rasanya membandingkan Jakarta dengan Polewali Mandar, namun setidaknya dapat dijadikan acuan dalam pengembangan daerah ini.

Jika dibeberapa segmen pasangan nomor urut dua masih dengan strategi “bertahan”, lain pula di segmen debat. Di segmen ini pasangan nomor urut dua kemudian balik menyerang pasangan nomor urut satu. Pertanyaan tentang kontribusi apa saja yang telah Salim berikan kepada masyarakat Polewali Mandar selama menjabat sebagai legislatif di DPR RI. Namun sepertinya pertanyaan ini dijadikan api bagi pasangan nomor urut satu untuk menyulut sumbu kembang api yang akan dicetuskannya ke langit. Hasilnya adalah, terbuka ruang bagi Salim untuk mengedepankan hal-hal yang selama ini tidak pernah terekspose sebab menurut beliau, beliau bukanlah seorang politisi melainkan prajurit.

Pada awalnya yang membuat saya tertarik menghadiri debat kandidat bupati dan wakil bupati Polewali Mandar adalah dengan ekspektasi “debat” dalam arti kata sesungguhnya. Saya pribadi telah membayangkan akan adanya pertarungan argumen, namun tidak dalam kenyataannya. Dari sisi subtansi, beberapa masalah tidak digali secara mendalam, mungkin terbatas dalam persoalan waktu.
Saya pun menangkap ada harapan yang sama dari para panelis, terbaca dari pertanyaan yang disiapkan. Meski tersirat, panelis seperti memiliki keinginan untuk mencecar pasangan calon untuk lebih mengeksplor ide dan gagasan yang tertuang dalam visi misi pasangan calon bupati dan wakil bupati Polewali Mandar.

Terakhir sependek yang bisa saya tangkap dari debat kandidat putaran dua dan tiga yang saya saksikan secara langsung adalah, kedua pasangan calon memiliki visi misi yang sama yaitu untuk memberikan kesejahteraan bagi masyarakat Polewali Mandar. Kedua kandidat adalah calon pemimpin yang terbaik dan tidak diragukan lagi kualitasnya. Siapapun yang terpilih menjadi pemimpin di Polewali Mandar, insyaallah adalah pemimpin yang terbaik diantara yang terbaik.

Oleh karena itu, mari bersama pada tanggal 27 juni 2018 mengunjungi TPS masing-masing, sebab suara kita adalah penentu bagi kelangsungan kehidupan masyarakat Polewali Mandar untuk lima tahun yang akan datang.


Start a Conversation

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*Komentar anda akan di moderasi.