Ingin Dongkrak Suara, Pasangan Asyik Pesan Lembaga Survei Untuk Menangkan Dirinya

Mendekati pencoblosan Pilkada serentak, hadirnya lembaga survei bak menjamur di musim hujan. Sebagian merilis hasil secara obyektif, sebagian lainnya merupakan lembaga survei pesanan.

Beberapa survei menjelang Pilkada ini ada yang ganjil. Mereka memiliki ‘data pencilan’ yang sangat berbeda dengan hasil survei lembaga lainnya. Diduga kuat data seperti itu memiliki latar belakang politis, bisa juga merupakan hasil pesanan calon tertentu.

Seperti misalnya hasil survei yang dirilis oleh Lembaga Kajian Pemilu Indonesia (LKPI) ini. Beberapa hari menjelang pencoblosan mereka merilis hasil survei yang memenangkan pasangan Sudrajat dan Ahmad Syaikhu (Asyik).

Menurut hasil survei LKPI, tingkat keterpilihan pasangan Asyik sebanyak 26,2 persen, disusul pasangan Ridwan Kamil-Uu 21,2 persen, Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi 20,7 dan terakhir TB Hasanudin-Anton 16,2 persen.

Hasil itu sangat berbeda dengan banyak lembaga survei yang kredibel lainnya. Misalnya, hasil survei Indo Barometer yang menempatkan pasangan Asyik di peringkat ketiga dengan 6,1 persen.

Demikian juga dengan hasil survei LSI Denny JA yang menempatkan pasangan Asyik di posisi ketiga dengan 8,2 persen. Tak jauh berbeda dengan hasil survei Poltracking Indonesia yang melihat pasangan Asyik di posisi ketiga dengan 10,2 persen.

Ketiga survei di atas semuanya digelar pada Bulan Juni dengan waktu yang hampir bersamaan dengan survei LKPI. Berbedanya hasil survei LKPI dibandingkan data lain yang senada disebut data pencilan dalam statistik.

Ada beberapa sebab adanya data pencilan itu. Bisa jadi karena kesalahan metode atau memang sudah dari awal disetting hasilnya. Tampaknya pilihan yang kedua lebih masuk akal untuk kasus LKPI ini.

Karena bila ditelusuri LKPI memang merupakan lembaga survei yang memiliki rekam jejak kerap memenangkan Partai Gerindra dan Prabowo Subianto, serta beberapa calon yang diusung oleh koalisi oposisi. Kini melalui hasil survei di Pilkada Jabar semakin menegaskan posisi tersebut.

Hasil survei LKPI di atas bisa disebut sebagai pesanan kubu Asyik untuk mendongkrak elektabilitas pasangan calon tersebut dengan mempengaruhi opini masyarakat Jabar. Seolah pasangan Asyik merupakan calon yang didukung oleh mayoritas warga Jabar. Padahal faktanya, hampir di semua hasil survei yang digelar berbagai lembaga, elektabilitas Sudrajat-Syaikhu selalu di posisi ketiga atau paling buncit.

Meski telah didongkrak oleh hasil survei seperti itu pun, tampaknya suara masyarakat Jabar tak bergeser. Pasangan Asyik akan tetap di posisi semula.

Masyarakat pun juga tahu bahwa pasangan Asyik berani menggunakan berbagai cara untuk memenangkan kontestasi politik itu. Rekam jejak sebelumnya tak bisa membohongi siapapun. Oleh karena itu, warga akan rasional dalam memilih calon di Jabar.

Sudrajat sebagai Cagub dulunya memiliki rekam jejak yang buruk. Dia memiliki banyak kontroversi selama menjadi perwira tinggi di TNI.

Sudrajat sendiri pernah berkonflik dengan sesama perwira, bahkan berani menentang Panglima Tertinggi angkatan bersenjata, Presiden Gus Dur. Di sisi lain, dia juga tak memiliki pengalaman apapun dalam memimpin lembaga politik.

Dengan latar belakang seperti itu, maka sangat wajar bila masyarakat Jabar tidak melihat pasangan Asyik sebagai calon pemimpin yang layak dipilih. Itu adalah fakta yang tak bisa dibohongi oleh polesan lembaga survei manapun.


Start a Conversation

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*Komentar anda akan di moderasi.