Walau Melemah, Rupiah Jadi Terbaik Kedua Di Asia

Jakarta, CNBC Indonesia – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih melanjutkan pelemahannya. Keperkasaan greenback sepertinya sulit terbendung.

Pada Rabu (11/7/2018), US$ 1 dibanderol Rp 14.370 kala pembukaan pasar. Rupiah melemah 0,1% dibandingkan penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Pada pukul 08:22 WIB, pelemahan rupiah agak lebih dalam. Kali ini US$ 1 sudah berada di Rp 14.375, di mana rupiah melemah 0,14%.

Kemarin, rupiah melemah 0,24% di hadapan dolar AS. Hari ini, penguatan mata uang Negeri Paman Sam berpotensi berlanjut.

Ini terlihat dari Dollar Index (yang mencerminkan posisi dolar AS relatif terhadap enam mata uang utama) yang menguat 0,06% pada pukul 08:21 WIB. Dalam sebulan terakhir, indeks ini menguat 0,68% dan selama sebulan ke belakang penguatannya mencapai 5,18%.

Rupiah tidak sendiri. Berbagai mata uang Asia pun kurang bergigi di hadapan dolar AS. Bahkan won Korea Selatan mencatatkan depresiasi yang lumayan dalam. Hanya yen Jepang yang mampu menguat, karena statusnya sebagai aset aman (safe haven).

Bahkan depresiasi rupiah menjadi yang paling dangkal dibandingkan mata uang lain. Oleh karena itu, rupiah menjadi mata uang dengan kinerja terbaik kedua setelah yen Jepang sampai pagi ini.

Berikut perkembangan nilai tukar mata uang utama Asia terhadap greenback pada pukul 08:25 WIB, mengutip Reuters:

Ada dua sentimen yang membuat dolar AS perkasa. Pertama adalah aksi beli yang dilakukan investor jelang rilis data inflasi AS pada Kamis waktu setempat. Sebagai catatan, inflasi AS pada Mei 2018 mencapai 2,8% secara year-on-year (YoY), tertinggi sejak Oktober 2008.

Bila inflasi di AS terus terakselerasi, maka semakin besar kemungkinan The Federal Reserve/The Fed untuk lebih agresif dalam menaikkan suku bunga acuan. Pasar kini mulai terbiasa dengan perkiraan kenaikan suku bunga empat kali sepanjang 2018, lebih banyak dibandingkan proyeksi sebelumnya yaitu tiga kali.

Kenaikan suku bunga tentu menjadi kabar gembira bagi dolar AS. Kenaikan suku bunga akan membuat ekspektasi inflasi terjangkar sehingga nilai mata uang naik. Selain itu, kenaikan suku bunga juga akan memancing arus modal untuk datang karena mengharapkan keuntungan lebih. Arus modal ini bisa menjadi fondasi bagi penguatan nilai tukar.

Sebelum The Fed menaikkan suku bunga, investor sepertinya sudah terlebih dulu memburu dolar AS. Sebab jika suku bunga sudah naik maka harga greenback akan lebih mahal. Akibat aksi borong ini, dolar AS sudah menguat sebelum suku bunga dinaikkan.

https://www.cnbcindonesia.com/market/20180711083409-17-22954/walau-melemah-rupiah-jadi-terbaik-kedua-di-asia

Cebong mana faham hal beginian. Pokoknya rupiah anjlok dan semuanya salah Jokowi.

Ekonom kampret waktu dan tempat serta klipping dipersilahkan.


Start a Conversation

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*Komentar anda akan di moderasi.