Konsumsi Masyarakat Diprediksi Melambat

JAKARTA (HN) –

Badan Pusat Statistik (BPS) memprediksi, konsumsi rumah tangga pada kuartal III dan IV-2018 tidak sebaik kuartal II-2018 yang naik 5,14 persen padahal nilai tersebut tertinggi sejak 2016. Tidak ada faktor penunjang daya beli, seperti momen Lebaran dan panen raya.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, daya beli konsumen akan melemah jika inflasi tidak terjaga. Apalagi, terjadi pertumbuhan impor bahan konsumsi dan volume ekspor menurun. “Ke depan kita berharap konsumsi rumah tangga kuat. Kita harus jaga inflasi,” ujarnya di Jakarta, Senin (6/8).

Menurut dia, realisasi serapan konsumsi pemerintah diminta menyebar pada kuartal III dan tidak bertumpuk pada kuartal IV. Jika penyerapan bagus akan menjadi poin lebih dalam mendongkrak konsumsi rumah tangga.

Pemerintah juga diminta menjaga kepastian investasi dengan meyakinkan perekonomian Indonesia cukup baik dan kondisi politik stabil. Kedua hal itu akan memberi kepercayaan kepada investor untuk tetap berinvestasi.

BPS memprediksi indeks tendensi konsumen (ITK) kuartal III-2018 hanya 96,99 poin. Hal ini menunjukkan kondisi ekonomi dan optimisme konsumen lebih rendah dibanding kuartal II. Pelambanan karena penurunan pendapatan dan rencana konsumen membeli barang tahan lama, rekreasi, dan hajatan berkurang.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal mengatakan, pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada kuartal III akan terpengaruh inflasi yang diprediksi mencapai 3,5-4 persen. Pelemahan rupiah, harga minyak dunia, dan perang dagang masih akan terjadi hingga akhir tahun.

Pada kuartal III juga sudah melewati musim panen sehingga harga beras naik. Stok pangan akan terpengaruh paceklik di lumbung padi Pulau Jawa. Pemerintah diharapkan bisa mewaspadai dan mempertahankan konsumsi karena poin tersebut sangat mempengaruhi inflasi.

Cara instan yang bisa dilakukan pemerintah dengan meningkatkan lapangan kerja dan kepercayaan konsumen terhadap kondisi ekonomi sehingga daya beli kelas menengah naik. Program bantuan sosial perlu ditingkatkan dan mengefektifkan belanja pemerintah seperti subsidi dan belanja pegawai. “Hingga sekarang belanja modal masih rendah sekali. Pertumbuhannya melambat dibanding tahun lalu,” katanya.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengatakan, inflasi yang diprediksi naik pada kuartal III akan memicu penurunan daya beli masyarakat, khususnya bagi masyarakat bawah.

Meskipun bantuan sosial pemerintah naik signifikan, tapi dibarengi kenaikan harga bahan pokok. Dampak bantuan terhadap daya beli sangat lemah. Faktor lainnya, pemulihan kepercayaan masyarakat kelas menengah untuk belanja masih rendah. “Pemerintah perlu merelaksasi kebijakan perpajakan dan stabilitas politik karena konsumsi kelas menengah sensitif kegiatan politik,” kata dia.

http://m.harnas.co/2018/08/06/konsumsi-masyarakat-diprediksi-melambat

mertoket


Start a Conversation

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*Komentar anda akan di moderasi.