Jejak SBY Di Bandara Lombok Dan Polemik Prasasti Era Jokowi

Jejak SBY di Bandara Lombok dan Polemik Prasasti Era Jokowi
Aryo Putranto, CNN Indonesia
Kamis, 13/09/2018 10:06

Jakarta, CNN Indonesia — Bandara Internasional Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) mendadak meramaikan jagat pemberitaan politik tanah air. Penyebabnya adalah keputusan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi yang mengubah nama bandara menjadi Zainuddin Abdul Madjid.

Keputusan Budi mengubah nama Bandara Internasional Lombok disampaikan dalam Surat Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KP 1421 Tahun 2018.

Zainuddin Abdul Majid merupakan tokoh NTB yang ditetapkan menjadi pahlawan nasional berdasarkan Keppres Nomor 115/TK/Tahun 2017. Mendiang adalah kakek Gubernur NTB TGH M Zainul Majdi atau juga dikenal dengan nama Tuan Guru Bajang (TGB).

“Pergantian itu sudah mendapat persetujuan dari DPRD dan gubernur. Sudah, dan itu kan tokoh nasional, pahlawan nasional satu-satunya dari NTB,” kata Menhub Budi Karya Sumadi saat dikonfirmasi kemarin.

Di masa lalu, satu-satunya bandara di NTB adalah Selaparang. Namun, Bandara Selaparang dianggap terlampau kecil dan tak mampu menampung laju penumpang dari dan ke Lombok. Lombok pada saat bersamaan mulai dilirik turis dunia sebagai tujuan wisata selain Bali.

Pembangunan Bandara Internasional Lombok (BIL) dimulai pada periode pertama kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2005. Setelah dihitung-hitung, proyek pembangunan bandara baru itu menelan biaya hampir Rp 950 miliar buat pembebasan lahan dan pembangunan.

Karena dirancang untuk melayani pesawat-pesawat jet mutakhir masa kini, maka landas pacu Bandara Internasional Lombok dibuat sepanjang 2,750 meter. Namun, saat peresmian SBY menyatakan landasan itu masih kurang panjang karena seharusnya mencapai tiga kilometer.

Seperti halnya saat ini, proyek BIL ketika itu juga menghadapi penolakan dari masyarakat setempat. Meski saat itu Angkasa Pura I sudah membebaskan lahan seluas 500 hektare untuk pembangunan bandara, warga tetap berkeras dan situasi sempat tegang.

Menteri Perhubungan ketika itu, Hatta Rajasa bahkan sempat disarankan lekas kembali ke Jakarta dan mengurungkan niatnya melakukan proses peletakan batu pertama dalam proyek. Namun, dia ngotot melakukan hal itu.

Enam tahun berlalu, akhirnya proyek itu kelar juga pada 2011. Presiden SBY lantas meresmikan Bandara Internasional Lombok pada masa pemerintahan kedua bersama dua menteri saat itu, yakni Menteri BUMN Dahlan Iskan dan Menteri Perhubungan EE Mangindaan.

Tujuh tahun berselang, pemerintahan Presiden Jokowi memutuskan mengubah nama bandara itu. Aroma politis sangat terasa dalam polemik pergantian nama bandara itu. Apalagi TGB yang mulanya kader Partai Demokrat saat ini mendukung Presiden Joko Widodo.

Yang bereaksi paling keras dari keputusan Budi adalah Partai Demokrat. Sebab, mereka khawatir rezim Jokowi bakal melepas prasasti peresmian diteken SBY tujuh tahun lalu.

SBY mengaku tidak memiliki hak menghalang-halangi keinginan Jokowi jika ingin mengganti prasasti. SBY juga mengatakan tidak memiliki kemampuan untuk menolak rencana penggantian nama sekaligus prasasti. Karenanya, SBY mempersilakan Jokowi, selaku presiden saat ini, jika ingin mengganti prasasti di bandara tersebut.

SBY mengatakan prasasti dan jejak sejarah memang dapat dihapus oleh manusia. Kapan saja dan dimana saja.

“Namun, saya sangat yakin, catatan Allah SWT tidak akan pernah bisa dihapus,” ujar SBY.
Lihat juga: SBY: Izinkan Saya Untuk Lebih Sering Berbicara

Sejauh ini belum ada kabar rencana penggantian prasasti bandara tersebut seiring dengan penggantian nama bandara. CNNIndonesia.com sudah berusaha mengonfirmasi hal tersebut Kepala Bagian Kerjasama dan Humas Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub Sindi Rahayu tetapi belum ditanggapi.

https://m.cnnindonesia.com/nasional/20180913091239-20-329814/jejak-sby-di-bandara-lombok-dan-polemik-prasasti-era-jokowi

Pernah gak? Ada pejabat? Ganti nama bandara atau ganti nama jalan atau ganti nama gedung atau ganti nama stasiun atau ganti nama apapun lah… Terus minta dibikinin prasasti?

Kalo pernah di prasastinye di tulis ape? Peresmian penggantian nama? Hahahahahahhahahahahahhahaha

5 tahun gak ada prestasi jadinya maksa banget sampe2 ganti nama aja minta dibikinin prasasti ahhahahhahahaha

Mending urusin tuh proyek2nya yang pada mangkrak…

terguncang
Katanya kerja kerja kerja? Kok malah amburadul?


Start a Conversation

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*Komentar anda akan di moderasi.