Ketika Anggota DPR Anggap Asumsi Makro APBN Tidak Penting Lagi…

JAKARTA, KOMPAS.com – Salah satu anggota Komisi XI fraksi Gerindra, Harry Poernomo, menilai asumsi makro untuk Rancangan APBN 2019 tidak penting untuk dibahas.

Pendapat itu disampaikan Harry dalam rapat kerja bersama pemerintah dengan agenda memutuskan asumsi makro RAPBN 2019 di DPR RI, Kamis (13/9/2018) kemarin.

“Buat apa kita bicara asumsi (makro)? Lebih baik kita bicara APBN-nya saja. (Asumsi makro) di Banggar saja, tidak usah di komisi,” kata Harry di hadapan para peserta rapat.

Dalam rapat tersebut, selain ada seluruh anggota Komisi XI dari berbagai fraksi, turut hadir Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto, serta Deputi Gubernur Bank Indonesia Mirza Adityaswara.

Sebelum mengatakan bahwa asumsi makro tidak penting dibahas di komisi, Harry sempat beberapa kali minta penjelasan Sri Mulyani mengenai nilai tukar rupiah dalam asumsi makro. Harry ingin memahami apa yang mendasari serta bagaimana hitung-hitungannya pemerintah dalam mengusulkan nilai tukar untuk 2019 sebesar Rp 14.400.

Menanggapi keingintahuan Harry, Sri Mulyani memberikan konsep dasar tentang kurs yang selalu dipengaruhi oleh muatan demand dan supply, sama seperti barang pada umumnya. Dalam suatu perekonomian, demand dan supply dollar AS terefleksi dari neraca pembayarannya.

Sri Mulyani juga menjelaskan pengaruh inflasi ke nilai tukar dan dampaknya terhadap mata uang suatu negara. Selain itu, bagaimana krisis di negara berkembang lain, seperti Argentina maupun Turki, bisa menyumbang faktor psikologi terhadap pelemahan rupiah.

“Kalau tiba-tiba ada krisis di Argentina dan Turki, ada faktor psikologi, bisa tercermin dalam investasi portofolio atau bisa dalam kondisi exposure terhadap Indonesia. Biasanya semua terlihat dari investasi portofolio,” tutur Sri Mulyani.

Setelah mendengar penjelasan Sri Mulyani, Harry sempat beberapa kali kembali menanyakan pertanyaan serupa dan minta diperlihatkan gambar dari slide yang mendukung penjelasan tersebut. Sri Mulyani kembali menjelaskan apa yang diminta dan sekaligus minta maaf jika penjelasannya terbatas.

“Kalau dulu soal kurs di kuliah saya satu semester, mohon maaf kalau penjelasan saat ini terbatas,” ujar Sri Mulyani.

Meski ada pandangan seperti itu, pada akhirnya seluruh fraksi di Komisi XI, termasuk Gerindra, menyepakati asumsi makro untuk RAPBN 2019. Asumsi makro yang telah disepakati ini akan dibahas lagi di tingkat selanjutnya, yakni di Badan Anggaran DPR RI.

Berikut poin lengkap asumsi makro RAPBN 2019 hasil kesepakatan pemerintah dengan Komisi XI DPR RI.

1. Pertumbuhan ekonomi 5,3 persen
2. Inflasii 3,5 plus minus 1 persen
3. Nilai tukar rupiah Rp 14.400
4. Tingkat bunga Surat Perbendaharaan
Negara (SPN) 3 bulan 5,3 persen
5. Tingkat pengangguran 4,8-5,2 persen
6. Tingkat kemiskinan 8,5-9,5 persen
Gini ratio 0,38-0,39
7. Indeks Pembangunan Manusia (IPM)
71,98

https://ekonomi.kompas.com/read/2018/09/14/102414026/ketika-anggota-dpr-anggap-asumsi-makro-apbn-tidak-penting-lagi

Asumsi makro RAPBN 2019 RI yang sangat berat untuk mengatasi tingkat pengangguran, kemiskinan dan nilai tukar rupiah


Start a Conversation

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*Komentar anda akan di moderasi.