Sepakbola Berdarah – Ciri Anak Bangsa Kehilangan Pancasila

Penulis adalah : Janna Ahmad Nugraha (SAPMA PP KOTA BANDUNG)

FANATISME WARISAN
Persib Bandung bukanlah sekedar sebuah klub sepakbola bagi masyarakat kota Bandung bahkan masyarakat Jawa Barat, Persib menjelma menjadi sebuah bagian budaya bagi masyarakat tatar sunda bahkan bagi pecinta bola di Jawa Barat mendukung Persib secara tidak langsung berarti mendukung harga dirinya sendiri.
Rivalitas dan kebencian dalam sepakbola bukanlah hal yang tabu, justru menjadi pemanis dalam setiap laga yang dihadapi oleh klub sepakbola yang mempunyai nilai historis yang cukup panjang, terlebih bagi Persib Bandung yang sarat akan sejarah prestasi dalam persepakbolaan nasional, yang menjadikan klub sepakbola ini mempunyai massa supporter terbesar di Asia. 

Fanatisme dalam dunia sepakbola adalah hal yang wajar dalam dunia sepakbola dimanapun, supporter menjadi hal yang penting dalam membangun imaji sebuah klub sepakbola, bahkan salahsatu faktor klub sepakbola dinilai besar salah satunya adalah mempunyai massa supporter yang fanatik dan banyak ketika timnya sedang bertanding. 
Persib Bandung yang secara historis digjaya di era perserikatan dan kota Bandung yang dinilai menjadi parameter mode dan berbagai gimmick sepakbola di Indonesia seakan menjadi roh dalam persepakbolaan Indonesia, khususnya dalam liga tertinggi di Indonesia. Beberapa hal tersebut yang jadinya menjadikan fanatisme warga Jawa Barat sudah tidak di sangsikan lagi untuk Persib Bandung.

Deindividuasi — Kehilangan Identitas

Dalam teori psikologi kelompok fanatisme yang berlebih dapat menjadikan”deindividuasi” bagi seseorang dalam kelompok. Deindividuasi adalah keadaan dimana seseorang kehilangan kesadaran akan diri sendiri (self awareness) dan kehilangan pengertian evaluative terhadap dirinya (evaluation apprehension) dalam situasi kelompok yang memungkinkan anonimitas dan mengalihkan atau menjauhkan perhatian dari individu (Festinger, Pepilone, & Newcomb; 1952).
Deindividuasi ini adalah hal yang kerap terjadi di masyarakat Indonesia yang terbagi dalam berbagai banyak kelompok baik dalam frame politik, agama, kesukuan bahkan hobby seperti sepakbola. Dalam kasus pengeroyokan di GBLA yang mengakibatkan seorang supporter persija tewas, jelas merupakan sebuah deindividuasi dari kedua belah pihak baik korban maupun pelaku.

Korban sebagai supporter persija, atas nama loyalitas dia kehilangan identitasnya sebagai warga negara dengan tidak mengindahkan himbauan dari sesama supporter Persija maupun Persib yang melarang supporter persija untuk hadir ke pertandingan yang sarat akan gengsi di Bandung. 
Hal ini menjadi sebuah akar masalah yang terjadi dalam dunia fanatisme yang berlebihan dalam sepakbola, bak gayung bersambut pelaku yang mengeroyok korban pun tentu bukan sebagai dirinya dalam bertindak sampai menghilangkan nyawa sesama manusia, dasar rivalitas dan fanatisme yang berlebih dalam dirinya yang membuat mereka bertindak demikian.

Efek buruk yang ditimbulkan oleh deindividuasi terlihat nyata dengan adanya istilah “oknum” dalam sebuah kelompok ketika adalah hal yang tidak di inginkan terjadi, segala tindak-tanduk rivalitas dan loyalitas seakan luntur seketika ketika seseorang berhadapan dengan hukum. Hal ini yang dirasa masih sulit disadari masyarakat Jawa Barat bahkan Indonesia secara luas dalam bertindak atas nama kelompok.

Pancasila Sebagai Solusi

Kasus kematian supporter sepakbola ini seakan menjadi teguran dan introspeksi bagi masyarakat Indonesia yang gemar berkelompok dalam berbagai sektor kehidupan, bahwa ada efek  yang buruk ketika masyarakat Indonesia saling sikut atas nama kelompok, bahwa tidak hanya saja harga diri semu yang hilang tetapi nyawa pun dapat hilang seketika.
Pancasila bukanlah sebuah produk usang yang tidak dinamis, tentunya jika semua masyarakat sepakat berpancasila dalam kehidupannya maka tempatkanlah pancasila di atas fanatisme kelompok, bahwa kita harus sadar kita lahir dan hidup di tanah yang sama maka harus ada sebuah kesamaan pemikiran dalam kehidupan di negeri ini, kesamaan itu hanya dapat hadir jika semua masyarakat sepakat untuk menggunakan pancasila sebagai solusi kehidupan di Indonesia.
Bayangkan, hanya dengan fanatisme sepakbola seseorang dapat hilang rasa persatuan, kemanusiaannya bahkan hilang rasa ketuhanannya, apalagi jika isu lain yang menyangkut ideologi bernegara. 

Sekali lagi, kejadian ini bukanlah kejadian yang harus di ingat konflik antara pendukung Persib dan Persija tetapi lebih dari itu, hanya akibat ‘menonton’ sepakbola anak bangsa harus saling membunuh. 
Maka solusi dari semua permasalahan perpecahan ini bukanlah sepakbola yang harus hilang dari negara ini, tapi semangat persatuan yang termaktum dalam pancasila harus hadir dalam setiap elemen masyarakat siapapun dia, agama apapun dia, kelompok apapun dia, dan suku apapun dia. 

Karena pancasila akan menjadi benang merah persatuan Indonesia yang paling kongkrit, dapat dinamis dipakai dalam setiap unsur masyarakat di Indonesia, karena pancasila adalah titik temu dari setiap perbedaan di masyarakat!.

“Kehidupan bukanlah tentang pertumpahan darah, melainkan tentang berbagi kebahagiaan, pertumpahan darah yang bermanfaat hanyalah donor via PMI”.
PANCASILA ABADI!


Start a Conversation

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*Komentar anda akan di moderasi.