BPN Prabowo-Sandi Klaim Kubunya Selalu Menjadi Korban Hoax

BPN Prabowo-Sandi Klaim Kubunya Selalu Menjadi Korban Hoax

Anggota Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Habiburokhman, merasa pihaknya selalu menjadi korban dalam isu hoax yang berkembang di tengah masyarakat.
“Hoax ini berkembang menjadi sebuah alat perang dalam konteks psikologi media sosial. Yang jelas kami selalu menjadi korban, dan juga tentu masyarakat Indonesia. Kami sering dikaitkan dengan hoax ini, itu,” ujar Habiburokhman di Jakarta, Kamis, 10 Januari 2019.
Habiburokhman menyampaikan pihaknya sering dikait-kaitkan dengan hoax yang belakangan terjadi. Meskipun secara hukum tidak pernah terbukti, framing dengan mengait-ngaitkan itu sudah merugikan pihaknya. “Ada framing seolah kami kubu penyebar hoax,” ujar Habiburokhman.
Baca juga: Fadli Zon Bantah Tersangka Penyebar Hoax Surat Suara Tercoblos Relawan Prabowo-Sandi
Ia mencontohkan kasus Saracen, seseorang ibu bernama Asma Dewi ditangkap, dan dituding sebagai Bendahara Saracen. Namun, kasus Saracen pada akhirnya tidak muncul dalam surat dakwaan.
Dalam kasus Ratna Sarumpaet, Habiburokhman menekankan pihaknya tidak pernah mengetahui seorang ibu bermuka lebam sebagai dampak dari proses operasi yang dilalukannya.
“Kami mana ngerti? Kemudian digiring segala macam bahwa ini kaitan dengan BPN dan seterusnya. Nyatanya kepolisian profesional, framing itu tidak terbukti. Namun, kami sudah dirugikan,” jelas Habiburokhman.
Baca juga: Tak Terima Disebut Penyebar Hoax, Andi Arief Polisikan Lima Orang Sekaligus
Kasus teranyar soal hoax tujuh kontainer surat suara. Habiburokhman mengatakan bahwa Andi Arief adalah korban dari peristiwa itu, sama halnya dengan masyarakat atau pihak lain yang juga menerima informasi itu. “Apakah kejahatan jika kita mendapat informasi seperti itu di WA grup, kemudian mempertanyakannya,” ujar Habiburokhman.
Salah seorang pelaku penyebar hoax tujuh kontainer surat suara, lanjutnya, dikabarkan berasal dari Kornas Prabowo. Namun, dia menegaskan sebelum pilpres, Gerindra secara internal telah menertibkan seluruh organisasi yang membawa nama Prabowo sebagai antisipasi agar tidak disalahgunakan dalam pemilu.
“Bahkan, ada yang namanya Garda Prabowo, kami tertibkan kemudian berubah nama menjadi Garda Perubahan. Jadi, saya menilai ada framing untuk judge kami sebagai kubu penyebar hoax,” jelasnya.


Start a Conversation

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*Komentar anda akan di moderasi.