Jejak Pelanggaran HAM Prabowo Di Timor Timur

Jejak Pelanggaran HAM Prabowo di Timor Timur

Prabowo Subianto, mantan Danjen Kopassus, memang identik dengan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM). Selain penculikan aktivis, Prabowo juga pernah melakukan pelanggaran HAM di Timor Timur.

Bahkan bisa dikatakan, kasus penculikan aktivitis tahun 1998 itu bukan merupakan persoalan HAM terburuk dirinya. Sebab, kasus pembantaian di Timor Timur jusstru lebih brutal lagi.

Syahdan, pada tahun 1983 di Timor Leste, ratusan nyawa melayang setelah terjadi pembunuhan besar-besaran termasuk perempuan dan anak-anak. Mereka sebelumnya telah menyerah kepada TNI setelah turun dari Gunung Bibileo. Hal tersebut berdasarkan penyampaian korban kepada Komisi Kebenaran Timor Leste CAVR.

Secara keseluruhan, tercatat 530 nama orang yang dibunuh atau hilang selama operasi kontra perlawanan yang berlangsung hingga tahun 1984 di seluruh Timor Leste.

Sejumlah besar orang yang selamat dari Gunung Bibileo juga meninggal dunia akibat kelaparan di kamp konsentrasi yang dijaga ketat aparat militer.

Pada tahun 1983 Prabowo Subianto, berusia 32 tahun, adalah seorang kapten di Pasukan Khusus, Kopassandha. Ia memainkan peran sentral dalam operasi kontra perlawanan di Timor Leste sehingga berujung pada promosi dari kapten ke Mayor di saat usianya masih muda.

Laporan CAVR yang menggambarkan kekejaman secara rinci dan mengerikan di masa keterlibatan Prabowo belum pernah disebutkan dalam publikasi umum Indonesia, apalagi ditindak oleh petugas peradilan Indonesia.

Kebisuan ini memungkinkan Prabowo untuk mengklaim tuduhan tidak terbukti, apalagi jika kelak terpilih menjadi Presiden. Dipastikan akan lenyap bersama dengan kasus-kasus lain di dirinya.

Prabowo dan kasus pelanggaran HAM di masa lalu yang belum terungkap, bahkan tak mau diungkap serta keinginannya untuk menjadikan Indonesia seperti Orde Baru adalah indikasi kemunduran bangsa Indonesia.

Meskipun demikian, masyarakat harus mengetahuinya. Untuk itu diperlukan literasi kepada masyarakat, terutama generasi milenial, agar mengetahui rekam jejak mantan menantu Soeharto tersebut.

Hal ini penting agar menjadi pertimbangan ketika akan memilih Prabowo. Diakui atau tidak, rekam jejaknya memang penuh darah.


Start a Conversation

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*Komentar anda akan di moderasi.