Pertumbuhan Utang Paling Tinggi: Era SBY Atau Jokowi?

Edisi : Periksa Data

Pertumbuhan utang Paling Tinggi: Era SBY atau Jokowi?

Dari sekian sumber utang, utang luar negeri sering menjadi sorotan oleh lawan petahana, termasuk soal jumlah dan pertumbuhannya.

tirto.id – “Ini bukan soal angka, ini soal luka, Luka Indonesiaku. Saya katakan ini karena saya menyadari betapa beratnya tugas yang menunggu kita semua di depan sana. Saya sayang kalian semua kawan – kawan”

Cuitan juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Gamal Albinsaid diunggah di akun Twitter pada 5 Januari 2019 pukul 6.38 WIB. Dalam cuitan tersebut, Gamal juga menyertakan tiga poster yang berisikan tentang utang luar negeri dan utang BUMN.

Salah satu hal menarik yang disajikan pada poster yaitu soal pertumbuhan utang luar negeri. Pada poster pertama, disebutkan “pertumbuhan utang luar negeri tertinggi dalam perjalanan bangsa yaitu 4.395,9 T pada November 2018” disertai ilustrasi wajah Presiden Jokowi. Poster tersebut juga menampilkan perbandingan angka-angka utang untuk setiap era kepresidenan sejak era Soeharto, minus angka pada era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Namun, infografik tersebut tidak menyertakan periode waktu, keterangan mata uang serta sumber rujukan. Jika merujuk pada angka 4.395,9 T, cenderung merujuk pada total utang pemerintah pusat yang dilaporkan Kementerian Keuangan pada APBN Kita edisi Desember 2018 (PDF). Pada laporan tersebut, total utang pemerintah pusat disebutkan sebesar Rp4.395,97 miliar per November 2018. Angka tersebut terdiri dari pinjaman luar negeri, pinjaman dalam negeri, serta surat berharga negara (SBN).

Total utang pemerintah pusat terdiri atas pinjaman luar negeri Rp777,78 triliun (17,69%), pinjaman dalam negeri Rp6,6 triliun (0,15%) dan surat berharga negara (SBN) Rp3.611,59 triliun atau porsinya 82,16%. SBN terdiri dari denominasi Rupiah Rp2.612,6 triliun (73%) dan denominasi valuta asing Rp998,9 triliun (27%).

Sedangkan total utang luar negeri Indonesia, termasuk kelompok pemerintah dan bank sentral serta kelompok swasta dilaporkan secara rutin oleh Bank Indonesia (BI) selaku otoritas moneter secara berkala melalui Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI), jumlahnya tentu lebih besar lagi.

Per Oktober 2018, total utang luar negeri Indonesia tercatat sebesar USD360,53 miliar atau setara Rp5.080,95 triliun (Kurs USD1 = Rp14.093). Terdiri atas kelompok pemerintah dan bank sentral sebesar USD178,33 miliar atau setara Rp2.513,20 triliun (49,46%), dan kelompok swasta sebesar USD182,20 miliar atau setara Rp2.567,74 triliun (50,54%). Artinya utang yang disumbang dari swasta lebih dominan daripada pemerintah.

Dari rincian itu, utang luar negeri menjadi hal yang sensitif di masyarakat. Menteri Keuangan Sri Mulyani pun pernah mengakui hal ini. Ia bilang “secara emosional mungkin ada bedanya kalau (utang) luar negeri lebih kesal kalau dalam negeri kagak”. Padahal, menurut Sri Mulyani tak ada bedanya meminjam utang luar negeri atau dalam negeri.

Bagaimana perkembangan utang luar negeri Indonesia secara keseluruhan? Bagaimana pertumbuhannya?

Pertumbuhan utang Paling Tinggi: Era SBY atau Jokowi?

Untuk mengetahui perbandingan berapa pertumbuhan total utang luar negeri Indonesia, Tirto mencoba menghitung pertumbuhannya dengan membatasi sejak 2004 hingga 2018 atau dari era Presiden SBY hingga era Presiden Jokowi.

Pada akhir 2004, utang luar negeri Indonesia tercatat sebesar USD141,27 miliar. Utang tersebut sempat berkurang menjadi USD134,5 miliar pada 2005 dan USD132,63 miliar pada 2006. Namun setelahnya, nominalnya bertambah setiap tahun. Sejak 2004 hingga akhir periode pertamanya menjabat di 2009, total utang luar negeri Indonesia bertambah sekitar USD31,6 miliar (22,4%).

Peningkatan utang tersebut terjadi pada kelompok pemerintah dan bank sentral maupun kelompok swasta. Namun BI mencatat kenaikan utang luar negeri tersebut juga diiringi dengan peningkatan Pendapatan Domestik Bruto (PDB) yang cukup besar yaitu USD291,8 miliar atau sekitar 113,3 persen.

Pada tahun pertama di periode kedua SBY menjabat sebagai presiden 2009-2014, total utang luar negeri bertambah cukup banyak. Tercatat pada akhir 2010, posisi utang luar negeri sebesar USD202,41 miliar. Angka tersebut meningkat sebesar 17,09 persen dari tahun sebelumnya sebesar USD172,87 miliar.

Penambahan tersebut lebih banyak disumbang oleh kelompok swasta dari USD73,61 miliar pada 2009 menjadi USD83,79 miliar pada 2009. Sedangkan kelompok pemerintah dan bank sentral meningkat dari USD99,26 miliar pada 2009 menjadi 118,62 miliar pada 2010. Penambahan utang dengan persentase dua digit terus terjadi hingga akhir periode SBY pada 2014, meskipun pada 2013 sempat menurun dengan penambahan hanya sebesar 5,45 persen.

Pada 2014 total utang luar negeri di posisi USD293,33 miliar. Pada akhir 2015 utang luar negeri tercatat makin membesar hingga USD310,73 miliar, meningkat 5,93 persen dari tahun sebelumnya. Angka tersebut terus bertambah hingga tahun-tahun berikutnya. Bahkan pada 2017, utang luar negeri meningkat 10,27 persen menjadi USD352,88 miliar dari tahun sebelumnya sebesar USD320,01 miliar.

Kenaikan tersebut terutama dipicu sektor keuangan; industri pengolahan; listrik, gas, dan air bersih; serta sektor pertambangan yang menguasai 76,9 persen utang luar negeri kelompok swasta.

Pertumbuhan Total Utang Luar Negeri

Jika melihat dari posisi utang luar negeri pada saat ini, memang terlihat besar. Hingga Oktober 2018, utang luar negeri tercatat sebesar USD360,53 miliar. Namun angka tersebut tidak datang dengan sendirinya. Utang tersebut tumbuh sejak era pemerintahan sebelumnya. Total utang luar negeri mengalami pertumbuhan yang berbeda-beda dari masing-masing pemerintahan.

Pertumbuhan utang Paling Tinggi: Era SBY atau Jokowi?

Pada 2009, utang luar negeri tercatat sebesar USD202,41 miliar. Dalam kurun waktu lima tahun angka tersebut meningkat menjadi USD293,33 miliar pada 2014. Artinya, ada penambahan utang sebesar 90,92 miliar dolar AS atau tumbuh sekitar 44,92 persen. Total utang luar negeri berada USD293,33 miliar pada akhir 2014 dan terus bertambah.
Hingga Oktober 2018, utang tersebut menjadi USD360,53 miliar. Selama 2014-2018, total utang luar negeri bertambah 67,2 miliar dolar AS atau tumbuh sekitar 22,91 persen.

sumber

dicerna dlu baek-baek yah
jangan terkaing-kaing

tirto emang entaps


Start a Conversation

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*Komentar anda akan di moderasi.