Golput Adalah Suatu Bentuk Ketidak Puasan Rakyat Terhadap Pejabat Di Negeri Ini

Golongan putih atau yang disingkat golput adalah istilah politik di Indonesia yang berawal dari gerakan protes dari para mahasiswa dan pemuda untuk memprotes pelaksanaan Pemilu 1971 yang merupakan Pemilu pertama di era Orde Baru.

Dalam era serba maju seperti sekarang ini, dimana suatu informasi cepat tersebar dan cepat diketahui oleh masyarakat luas tentunya mengandung dua sisi yang berbeda yaitu : Positif dan Negatif. Hal positif adalah cepat mengetahui suatu berita secepat mungkin dan hal negatif adalah mudahnya masyarakat terfrofokasi atas berita yang belum tentu 100% kebenarannya. Seperti halnya pesta demokerasi yang tingal menghitung jam lagi, tentunya kita akhir-akhir ini disuguhi berita yang simpang siur dan saling fitnah antar paslon 1 dan yang lainnya. Masyarakat seolah-olah diadu domba oleh suatu informasi yang tak pasti kebenarannya bahkan masyarakat yang menelan mentah-mentah suatu berita bisa jadi fanatik dan rela melakukan apapun bahkan sampai membenci keluarga sendiri cuma gara-gara informasi yang tak jelas atau yang lebih tren disebut berita Hoax.

Melihat politik yang kacau balau seperti sekarang ini dimana para pejabat lebih mementingkan dirinya sendiri dibandingkan kempentingan rakyat membuat rakyat menjadi ragu untuk mencoblos dan memilih golput atau Golongan Putih. Golput bagi masyarakat kecil yang tak memiliki jabatan dan uang tentunya adalah suatu sikap bentuk perotes atas ketidak adilan para pejabat negeri ini yang seenaknya sendiri sampai-sampai mengesampingkan kepentingan rakyat.

Lihat saja pejabat dinegeri ini yang katanya berpendidikan tinggi dengan gelar Prof lah, Master lah, Sarjana lah dan lain sebagainya tapi sikap mereka tak menunjukan kedewasaan dan bahkan tak memberi contoh baik pada masyarakat. Para pejabat berlomba-lomba mencari jabatan kesana-kesini, adu jotos di persidangan, korupsi dimana-mana, hukum yang tajam ke bawah bukan keatas dan masih banyak lain sebagainya. Mereka menindas rakyat kecil untuk kepentingan diri sendiri. Ambil contoh saja masalah batu bara dan pemilik sahamnya. Pastinya lagi-lagi rakyatlah yang menjadi tumbal atas kerakusan para pejabat negeri ini.

Golpu ! ! !

Golput ! ! !

Golput ! ! !

Iya golput adalah jalan keluar yang layak dilakukan oleh warga atas ketidak puasan pejabat di negara ini. Pejabat yang katanya pembela rakyat malah menindas secara terus menerus. Tambang didirikan rakyat tergusur, bantuan rakyat dikorupsi dan rakyat cuma bisa diam karna tak punnya jabatan dan harta. Teragis memang hidup dinegara yang katanya kaya atas sumber alam seperti Indonesia. Kaya tapi masyarakatnya masih hidup dibawah garis kemeiskinan gara-gara pejabat tak berpihak pada masyarakat kecil.

Melihat fakta-fakta yang kita lihat setiap harinya baik secara onlin, Tv dan koran tentang pejabat di negeri ini tentunya menjadikan masyarakat tak percaya lagi atas kinerja para pejabat yang inget saat butuh terus lupa saat sudah berada diatas. Ketidak puasan masyarakat yaitu dalam bentuk Golput.

Golput menjadi solusi terakhir bagi rakyat yang selama ini ditindas oleh para pejabat negeri ini. Pejabat negeri ini seolah-olah memakai topeng saat kampanye dan menjadi singga saat sudah terpilih.

Golput tentunya tidak disarankan tapi melihat kekacoan pejabat di negeri ini tentunya masyarakat lebih baik golput dari pada datang ke TPS untuk mencoblos.

Mereka gembar-gembor tentang pemilu damai dan terkendali tapi apakah di lapangan berjalan damai dan tenteram. Tentunya jawabannya adalah tidak. Karna di lapangan banyak kecurangan dan diluputi saling menjatuhkan entah itu dengan cara keji sekalipun dengan tujuan akhir adalah jabatan. Sungguh sayang 1000 sayang yang harusnya lejabat negeri ini melindungi rakyat malah kenyataannya menindas rakyat dan lebih membela asing.

Iya Golput mungkin adalah solusi bagi mereka yang tak puas atas kinerja para pejabat elit politik. Masyarakat ditunjukan dengan fitnah dan berita hoax setiap harinya tentang politik yang akhirnya masyarakat menjadi mlas pergi ke Tps untuk mencoblos.

Dari awal sampai sekarang pesta demokerasi digelar angka golput selalu meningkat. Entah hal ini dikarnakan bentuk ketidak puasan terhadap pejabat negara ini atau faktor lainnya. Tapi sebagai warga yang demokeratis tentunya golput bukan solusi yang baik dan tak harus dilakukan. Memilih itu lahir dari hati nurani tak ada yang boleh memaksa. Baik mau mencoblos atau tidak semua dikembalikan lagi kepada hati nurani kita masing-masing. Saling menghargai mungkin lebih baik tanpa saling menjatuhkan satu dan yang lainnya meski berbeda pendapat.

Inget 17 April 2019, Hati nurani berbicara apakah agan-agan mau memberi hak suara atau golput semua tergantung pada hati nurani agan-agan lagi.

Golput Adalah Suatu Bentuk Ketidak Puasan Rakyat Terhadap Pejabat Di Negeri Ini


Start a Conversation

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*Komentar anda akan di moderasi.